Kuba Terima Kiriman Beras dari China di Tengah Blokade AS

Jakarta – Kuba menerima kiriman 15 ribu ton beras bantuan dari Cina pada Ahad (24/05) kemarin. Pengiriman pertama dari total 60 ribu ton yang dijanjikan Beijing sedikit meredakan krisis pangan akut yang tengah melanda negara Karibia tersebut.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyebut bantuan itu sebagai “gestur solidaritas mulia” yang akan menjangkau jutaan warga di seluruh provinsi di Kuba, termasuk institusi kesehatan dan pendidikan. Menurut dia, hubungan persahabatan dan kerja sama antara Havana dan Beijing justru menguat pada masa-masa krusial.

Duta Besar Cina untuk Kuba, Hua Xin, mengatakan bantuan tersebut merupakan “bantuan pangan terbesar” yang diberikan Beijing kepada Kuba dalam beberapa tahun terakhir. Pengiriman ini menjadi bagian dari paket bantuan darurat Cina untuk membantu Kuba menghadapi krisis ekonomi yang kian memburuk.
Kuba hadapi masa-masa sulit

Krisis di Kuba semakin parah sejak Amerika Serikat (AS) menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu dan menghentikan pasokan minyak Caracas ke Havana. Kuba, yang selama ini bergantung pada minyak Venezuela, kini menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan hampir di seluruh wilayahnya.

Data perusahaan listrik negara menunjukkan hingga 64 persen wilayah Kuba mengalami pemadaman secara bersamaan pada Minggu. Pemerintah Kuba bahkan mengakui kondisi sektor energi berada dalam situasi “akut”, “kritis”, dan “sangat tegang”. Di Havana, pemadaman listrik dilaporkan berlangsung hingga lebih dari 22 jam.

Pekan lalu, Kuba mencatat rekor ketika 70 persen wilayah negara itu padam pada jam konsumsi listrik puncak. Pemerintah menuding embargo minyak Amerika Serikat, yang melengkapi embargo dagang sejak 1962, sebagai penyebab utama kolapsnya sistem energi nasional. Havana menilai kebijakan Washington itu sebagai upaya “mencekik” perekonomian Kuba.

Tekanan AS

Kuba membutuhkan sekitar 100 ribu barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan energinya. Namun produksi domestik hanya mampu memasok sekitar 40 ribu barel. Sejumlah studi independen memperkirakan Kuba memerlukan dana antara US$8 miliar hingga US$ 10 miliar untuk memulihkan sistem energinya.

Di tengah situasi itu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump terus meningkatkan tekanan politik terhadap Havana. Kelompok garis keras Kuba-Amerika di Florida selama puluhan tahun mendorong perubahan rezim di Havana. Namun para pengamat menilai, menggulingkan pemerintahan Diaz-Canel tidak akan semudah operasi terhadap Venezuela.

Menurut Orlando Perez, pakar hubungan Amerika Latin dari University of North Texas, aparat keamanan Kuba selama bertahun-tahun telah membongkar hampir semua potensi kekuatan oposisi alternatif.

Ia juga menilai militer Kuba lebih solid secara ideologis dibandingkan Venezuela dan lebih siap menghadapi kemungkinan intervensi asing. Selain itu, Havana dianggap memiliki kemampuan pengawasan dan intelijen yang lebih maju berkat kerja sama panjang dengan Uni Soviet semasa Perang Dingin dan, belakangan, dengan Cina.
Castro unjuk muka

Sorotan terbaru kini tertuju pada mantan Presiden Ral Castro. Tokoh revolusi Kuba berusia 94 tahun itu terakhir kali muncul di depan publik pada peringatan Hari Buruh Internasional, 1 Mei lalu, di kawasan pesisir Havana. Di bawah terik matahari, dia berdiri tegak di tengah puluhan ribu massa yang menghadiri aksi unjuk kekuatan pemerintah Kuba.

Di belakangnya tampak pengawal pribadinya yang dipimpin sang cucu, Ral Guillermo Rodrguez Castro. Penampilan itu tergolong langka bagi Castro, figur terakhir generasi revolusi Kuba yang masih hidup dan diyakini tetap memiliki pengaruh besar di lingkar kekuasaan, meski kini menjaga profil rendah.

Nama Castro kembali menjadi perhatian setelah jaksa federal Amerika Serikat mengumumkan dakwaan terhadap dirinya terkait insiden penembakan dua pesawat sipil milik kelompok pengasingan Kuba berbasis di Miami, Brothers to the Rescue, pada 1996. Empat warga Amerika Serikat tewas dalam peristiwa tersebut. Saat itu Castro menjabat Menteri Pertahanan Kuba. Dakwaan meliputi tuduhan pembunuhan dan penghancuran pesawat.

Jaksa Agung sementara Amerika Serikat Todd Blanche mengatakan Washington berharap Castro “akan muncul di sini, atas kehendaknya sendiri atau dengan cara lain” ketika mengumumkan dakwaan tersebut dalam konferensi pers di Miami. Pernyataan Blanche, ditambah komentar Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, memicu kembali kekhawatiran kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat ke Kuba.

Editor: Arti Ekawati

(ita/ita)