AS Serang Kapal dan Lokasi Peluncuran Rudal Iran

Foto: Ilustrasi (Rawpixel/Freepik).

Jakarta, bisnissumsel.com-

Pasukan Amerika Serikat (AS) menyerang Iran. Kali ini, target AS menyerang kapal Iran dan beberapa lokasi peluncuran rudal di Iran.

Dilansir kantor berita Al Jazeera dan AFP, Selasa (26/5/2026) pasukan AS dilaporkan telah menyerang beberapa lokasi di Iran selatan. Laporan dari sebuah stasiun televisi AS mengatakan pasukan AS mengklaim serangan ini sebagai pembelaan diri.

“Pasukan AS melakukan tindakan membela diri hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran,” kata Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat militer AS, seperti yang dilaporkan oleh Fox News.

Hawkins mengatakan target serangan kali ini ke lokasi peluncuran rudal-rudal di Iran. AS juga menargetkan serangan di kapal-kapal Iran yang memasang ranjau.

“Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau. Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung,” kata Hawkins, menurut laporan tersebut.

Ledakan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas di Iran selatan. Kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan bahwa situasi telah terkendali.

Kesepakatan AS-Iran

AS dan Iran padahal sebelumnya akan menandatangani kesepakatan yang akan mengatur perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kesepakatan itu akan memungkinkan Teheran melanjutkan penjualan minyak dan menciptakan peluang negosiasi mengenai program nuklir Iran.

Isi kesepakatan tersebut, seperti dilansir Middle East Monitor, Senin (25/5), dilaporkan oleh media AS, Axios, yang mengutip seorang pejabat AS yang mengetahui draf kesepakatan tersebut. Baik AS maupun Iran sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi apa pun.

Disebutkan oleh pejabat AS yang dikutip Axios tersebut bahwa kesepakatan yang diusulkan itu belum difinalisasi. Pejabat AS itu juga memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut masih dapat gagal sebelum ditandatangani.

Laporan New York Times (NYT) pada Minggu (24/5), yang mengutip seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya, menyebut kesepakatan itu masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei — proses yang dapat memakan waktu beberapa hari.

Laporan Axios menyebut bahwa kesepakatan yang berpotensi ditandatangani AS dan Iran akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz, yang secara efektif ditutup oleh Teheran selama perang berkecamuk sejak akhir Februari.

Berdasarkan draf nota kesepahaman, Iran akan membersihkan ranjau dari Selat Hormuz dan mengizinkan kapal-kapal untuk lewat tanpa pungutan tol.

Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberlakukan pengecualian sanksi terbatas yang memungkinkan Teheran untuk menjual minyak secara bebas selama periode 60 hari.

Seorang pejabat AS menggambarkan pengaturan tersebut sebagai “bantuan berdasarkan kinerja”, dengan menyebut bahwa bantuan ekonomi akan mengikuti langkah-langkah konkret AS dan tidak akan diberikan di muka.

Draf kesepakatan itu juga mencakup komitmen Iran untuk tidak mengupayakan senjata nuklir dan untuk menegosiasikan penangguhan pengayaan uranium, serta pemindahan pasokan uranium yang diperkaya tinggi.

Setiap pelonggaran sanksi yang lebih luas atau pencairan dana Iran, menurut laporan Axios, akan dibahas selama periode gencatan senjata, tetapi hanya akan diimplementasikan sebagai bagian dari kesepakatan akhir yang telah diverifikasi.

Selama periode 60 hari gencatan senjata diperpanjang, pasukan AS yang ditempatkan di kawasan tersebut akan tetap berada di tempatnya dan hanya akan ditarik jika kesepakatan akhir tercapai.

Kesepakatan tersebut juga tampaknya terkait dengan upaya untuk mengakhiri perang antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Dituturkan seorang pejabat AS yang dikutip Axios bahwa Israel masih akan diizinkan untuk bertindak, jika Hizbullah mencoba mempersenjatai diri kembali atau melanjutkan serangan.

Beberapa pemimpin Arab dan Muslim, termasuk dari Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, dan Uni Emirat Arab, mendukung upaya diplomatik tersebut.

(whn/yld/detik)