Palembang, bisnissumsel.com–
Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Provinsi Sumatera Selatan menegaskan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) bukan sekadar formalitas di atas kertas.
Sekretaris Dinas DLHP Sumsel, Indra Permana Aditia, mengatakan pelaksanaan PROPER bertujuan menjamin keberlangsungan ekosistem di tanah air. Pelaku usaha diwajibkan menyelaraskan kepentingan ekonomi dengan keberlanjutan ekosistem demi generasi masa depan.
“Melalui momentum ini, DLHP Sumsel mendorong seluruh pelaku usaha untuk terus meningkatkan kinerjanya,” katanya dalam acara penyerahan sertifikat PROPER periode evaluasi tahun 2025, Senin (22/6/2026).
DLHP Sumsel mencatat peserta PROPER tahun 2025 mencapai 245 perusahaan. Dari jumlah tersebut, 4 perusahaan meraih peringkat tertinggi dalam pengelolaan lingkungan atau peringkat emas, lalu 20 perusahaan untuk Peringkat Hijau dan 127 perusahaan untuk kategori Peringkat Biru.
PT Pertamina Patra Niaga Refinery Plaju menjadi salah satu perusahaan penerima penghargaan PROPER Emas 2025 di Sumsel. Capaian tersebut menjadikan Kilang Plaju peraih Peringkat Emas empat kali berturut-turut. Sejak 2022, Kilang Plaju meraih penghargaan puncak pada gelaran PROPER dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui berbagai inovasi yang tak hanya berdampak bagi perusahaan tetapi juga bagi pelestarian lingkungan dan masyarakat sekitar.
DLHP Provinsi Sumatera Selatan memberikan apresiasi tinggi kepada perusahaan-perusahaan yang menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga keutuhan alam.
“Kami mengucapkan selamat dan terima kasih atas komitmen teman-teman perusahaan dalam menyukseskan program PROPER ini,” ujar Indra.
Dalam program pengelolaan lingkungan, Kilang Plaju melibatkan berbagai pihak dengan memberdayakan masyarakat di Desa Sungai Gerong, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin. Di wilayah Ring I operasional perusahaan tersebut, Kilang Plaju memprakarsai model ekosistem perikanan berdikari yang mendorong kesejahteraan kelompok rentan kampung ikan dengan mengoptimalkan bisnis perikanan end to end terintegrasi.
Inisiasi ini mendorong konservasi ikan belida sebagai spesies ikan asli Sungai Musi yang hampir punah, dengan membentuk 30 sentra perikanan terintegrasi yang melibatkan 307 jiwa dari 8 kelompok rentan, peningkatan penjualan ikan hingga terciptanya pusat pembelajaran masyarakat.
Melalui program ini, perusahaan bersama masyarakat juga sukses melakukan domestikasi spesies Notopterus notopterus (belida jawa) berbasis masyarakat serta konservasi 4 spesies Belida langka. Upaya tersebut turut berkontribusi pada penemuan kembali Belida identitas Palembang Chitala Hypselonotus yang terakhir ditemukan pada tahun 2015.
Dari sisi inovasi yang memberikan solusi lingkungan berkelanjutan, Kilang Plaju telah melahirkan program Eko-Inovasi unggulan yang disebut COST FLORESS (Crude Oil Selection and Flare Optimization for Reduce Loss). Inovasi ini lahir dari komitmen untuk menjawab tantangan operasional sekaligus menekan dampak lingkungan.
Komitmen Kilang Plaju menuju Net Zero Emission diwujudkan melalui inovasi COST FLORESS yang mampu memangkas emisi CO₂ akibat flaring hingga 97,8% dan menekan potensi penipisan ozon hingga 71,96%. Keberhasilan lingkungan ini dicapai dengan memperketat kondisi operasional dan menyelaraskan pemilihan minyak mentah sesuai ketentuan Crude Assay Management (CAM). Langkah strategis tersebut terbukti mampu menciptakan proses produksi yang jauh lebih efisien sekaligus memberi nilai tambah bagi bisnis perusahaan.(Ferdi/bs)














