Jakarta, bisnissumsel.com –
Rahasia mengapa sebagian orang bisa hidup sehat hingga usia 100 tahun ke atas (centenarian) mulai terkuak secara ilmiah. Selama ini, para peneliti memperkirakan bahwa faktor genetika menyumbang hingga 50 persen kemampuan seseorang untuk mencapai usia ekstrem, dibantu oleh gaya hidup sehat seperti pola makan nabati, aktif bergerak, dan hubungan sosial yang kuat.
Namun, teka-teki mengenai perubahan metabolisme tubuh yang mendukung penuaan sehat tersebut baru saja dipecahkan oleh sebuah studi terbaru dari Boston University Chobanian & Avedisian School of Medicine. Melalui riset yang dipublikasikan di jurnal ilmiah GeroScience, ilmuwan berhasil mengidentifikasi adanya pola molekul kecil atau metabolit darah yang sangat unik dan berbeda pada tubuh para lansia berumur satu abad.
Menemukan ‘Sidik Jari’ Kimia di Dalam Darah
Para peneliti menemukan bahwa orang yang berhasil mencapai usia 100 tahun memiliki kadar asam empedu primer dan sekunder yang sangat tinggi di dalam darah mereka, diiringi dengan kadar beberapa hormon steroid yang tetap terjaga kelestariannya.
Pola metabolisme khusus ini sangat berbeda dengan proses penuaan yang dialami oleh lansia normal pada umumnya, dan terbukti berkorelasi kuat dengan risiko kematian yang jauh lebih rendah.
“Studi kami menunjukkan adanya sidik jari kimiawi yang dapat diukur di dalam darah yang dikaitkan dengan hidup yang sangat panjang dan sehat,” jelas penulis koresponden studi, Profesor Stefano Monti, PhD dikutip dari Science Alert.
Menurut Prof. Monti, jika ilmuwan mampu memahami karakteristik sidik jari kimiawi tersebut secara mendalam, dunia medis dapat mengidentifikasi jalur biologis baru yang berfungsi melindungi manusia dari penurunan fungsi tubuh akibat penuaan.
Analisis Menggunakan Teknologi ‘Jam Metabolomik’
Dalam menyusun temuan ini, tim peneliti menganalisis sampel darah dari 213 partisipan yang terlibat dalam New England Centenarian Study, salah satu proyek investigasi populasi umur panjang terbesar di Amerika Utara. Sampel tersebut mencakup kelompok lansia berusia 100 tahun, anak-anak kandung mereka, serta kelompok kontrol dengan usia yang disesuaikan.
Menggunakan teknologi pemindaian canggih, para ilmuwan mengukur sekitar 1.495 molekul kecil di dalam serum darah untuk melihat molekul apa saja yang berubah seiring bertambahnya usia kronologis.
Tak hanya itu, para peneliti juga mengembangkan model pembelajaran mesin (machine learning) yang disebut sebagai “Jam Metabolomik” (metabolomic clock). Teknologi kecerdasan buatan ini bertugas memperkirakan usia biologis seseorang berdasarkan kadar metabolit di dalam tubuh mereka, guna mengevaluasi apakah seseorang secara biologis berusia lebih muda atau lebih tua daripada usia kalendernya.
Harapan untuk Terapi Masa Depan
Para peneliti meyakini bahwa penanda biologis (biomarker) yang ditemukan dalam studi ini nantinya dapat digunakan untuk melacak seberapa baik tubuh seseorang dalam merespons perubahan gaya hidup atau efektivitas obat penuaan dini.
Beberapa jalur biologis yang menjadi fokus perhatian untuk dikembangkan menjadi target terapi medis atau suplemen makanan di masa depan meliputi jalur asam empedu, jalur terkait NAD, metabolit bakteri usus (gut microbiota), penanda stres oksidatif, serta jenis steroid tertentu.
“Kami berharap studi ini membantu menunjukkan tanda-tanda metabolisme penuaan sehat yang dapat dilacak dan ditargetkan. Pada akhirnya, tujuan kami adalah menerjemahkan wawasan ini menjadi tes kesehatan dan intervensi medis yang aman untuk membantu orang-orang tetap sehat dan aktif lebih lama,” pungkas Prof. Monti.
(kna/kna/detik)
















