Doa Sesudah Adzan Salat 5 Waktu

Ilustrasi doa (Foto: Masjid Maba/Unsplash)

Jakarta, bisnissumsel.com –

Kumandang adzan yang menggema lima kali dalam sehari bukan sekedar penanda masuknya waktu salat fardhu bagi umat Islam. Lebih dari itu, panggilan suci ini merupakan momen sakral yang menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta.

Mengingat kedudukannya yang begitu agung, Rasulullah SAW mengajarkan serangkaian adab mulia, termasuk memanjatkan doa khusus sesudah adzan selesai dikumandangkan.

Dalil Membaca Doa Setelah Adzan

Menjawab panggilan adzan dan melantunkan doa setelahnya bukan hanya cerminan ketaatan, melainkan juga sarana meraih limpahan pahala serta syafaat di hari akhir. Panggilan ini sekaligus menegaskan pentingnya kedisiplinan beribadah secara berjamaah.

Berdasarkan tuntunan sunah yang termuat dalam kitab hadits riwayat Abu Dawud dari sahabat Jabir bin Abdullah RA, barangsiapa yang membaca doa setelah mendengar adzan, maka ia berhak mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW pada hari kiamat kelak.

Jabir bin Abdulla ra. mengabarkan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa setelah mendengar adzan mengucapkan doa: ‘Al-loohumma robba haadzihid da’watit taammah, wash sholaatil goo imah, aati sayyidana Muhammadanil wasiilata wal fadlilah, wasy syarofa wadd- arojatal ‘aaliyatar rofii’ah, wab’atshul maqoomal mahmuudanil ladzii wa’adtah, innaka laa tukhliful mii’aad’ (Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan ini dan pemilik sholat yang didirikan, berilah junjungan kami Nabi Muhammad wasilah, keutamaan, kemuliaan, derajat yang tinggi, dan tempatkanlah beliau pada tempat yang terpuji yang telah engkau janjikan. Sesungguhnya Engkaulah ya Allah, Dzat yang tidak akan mengubah janji), maka wajib baginya syafa’at pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

Bacaan Doa Sesudah Adzan

Di dalam buku Dahsyatnya Adzan karya M. Syukron Maksum, berikut adalah lafal doa sesudah adzan secara umum yang dibaca pada salat 5 waktu:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ اِنَكَ لاَ تُخْلِفُ اْلمِيْعَاد

Lafal Latin: Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah. Wash shalaatil qaa-imah. Aati muhammadal wasiilata wal fadhiilah, wab’atshu maqoomam mahmuudal ladzii wa’adtahu innaka la tukhliful mi’ad.

Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan ini, yang sempurna dan memiliki sholat yang didirikan. Berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah dia ke tempat yang terpuji sebagaimana yang Engkau telah janjikan.”

Keutamaan Berdoa di Antara Adzan dan Iqamah

Momen emas pasca-adzan tidak berhenti sampai pada pembacaan doa formal di atas saja. Dalam kitab Fikih Sunnah – Jilid 1 yang disusun oleh Sayyid Sabiq, dijelaskan secara gamblang bahwa rentang waktu yang membentang di antara adzan dan iqamah adalah salah satu waktu paling mustajab (dikabulkannya doa) dalam Islam. Umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak permohonan personal pada waktu-waktu ini.

Tuntunan ini bersandar pada sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi (yang menilai status hadits ini sebagai hasan shahih):

“Doa yang dipanjatkan di antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak.” Ketika para sahabat bertanya mengenai apa yang sebaiknya diucapkan, Rasulullah SAW menjawab, “Mintalah kepada Allah kesehatan dan keselamatan di dunia dan akhirat.”

Keutamaan ini diperkuat melalui riwayat Abdullah bin Umar RA. Ketika ada seseorang yang merasa cemburu dengan kelebihan muadzin yang mendapatkan pahala besar, Rasulullah SAW memberikan solusi rohani:

“Ucapkan sebagaimana yang dia ucapkan. Dan jika telah selesai, mintalah, maka permintaanmu akan dikabulkan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Tidak hanya itu, Sahal bin Sa’ad menambahkan riwayat berharga dari Rasulullah SAW mengenai kedahsyatan waktu ini:

“Ada dua perkara yang tidak akan ditolak; doa ketika (selesai) adzan, dan doa dalam keadaan terjepit, yaitu ketika sebagian orang saling menyerang antara yang satu dengan yang lain.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih).

Wallahu a’lam.

(hnh/lus/detik)