Bolehkah Puasa Senin Kamis Tanpa Sahur?

Ilustrasi sahur (Foto: ChatGPT)

Jakarta, bisnissumsel.com –

Tak jarang seorang Muslim yang berniat menunaikan puasa sunnah Senin Kamis tak sempat melaksanakan sahur. Mereka bangun kesiangan sehingga harus pergi langsung salat Subuh.

Kondisi ini kerap memunculkan pertanyaan di kalangan umat Islam: bolehkah puasa Senin Kamis tanpa sahur, dan apakah puasanya tetap sah?

Memahami hukum sahur dan kedudukannya dalam ibadah puasa sangat penting agar kita tidak ragu dalam menjalankan amalan sunnah yang dicintai Rasulullah SAW ini.

Keutamaan Makan Sahur

Makan sahur pada dasarnya merupakan amalan yang sangat dianjurkan (sunnah muakkad). Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi dalam kitab Fikih Empat Madzhab Jilid 2, terdapat hadits riwayat Al-Bukhari yang menegaskan adanya keberkahan dalam makan sahur, di mana Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Bersahurlah kalian, karena di dalam sahur itu terdapat barokah.” (HR. Bukhari)

Selain itu, sebagaimana dikutip dari buku Anda Bertanya Ustadz Menjawab karya H. Amirulloh Syarbini, keutamaan sahur juga ditegaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad:

“Bersahur itu adalah suatu keberkahan, maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersholawat atas orang-orang yang bersahur (makan sahur).” (HR. Ahmad)

Menukil pandangan Ibnu Hajar al-Asqalani dari sumber yang sama, keberkahan dalam sahur merujuk pada ganjaran pahala bagi orang yang mengamalkannya. Sahur memberikan manfaat fisik dan psikologis, seperti membantu menguatkan tubuh, menambah semangat, serta meringankan beban selama berpuasa.

Oleh karena itu, meski hanya sempat meneguk seteguk air menjelang Subuh, menyempatkan sahur tetap disunnahkan demi menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.

Hukum Puasa Senin Kamis Tanpa Sahur

Meskipun sahur memiliki keutamaan yang luar biasa, sahur bukanlah syarat sah maupun rukun puasa. Artinya, puasa Senin Kamis tanpa sahur tetap sah dijalankan.

Pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Yahya Zainul Ma’arif alias Buya Yahya, memberikan penjelasan terkait hukum seseorang yang berpuasa tanpa sempat makan sahur.

“Hukum orang yang tidak makan sahur karena kesiangan, adalah puasanya tetap sah. Yang penting sudah niat di malam hari. Sahur adalah sunnah, bukan wajib,” terang Buya Yahya, dalam video yang ditayangkan di kanal YouTube Al Bahjah TV. detikHikmah telah mendapatkan izin untuk mengutip tayangan tersebut.

Buya Yahya menegaskan bahwa meninggalkan sahur tidak membatalkan puasa. Rasa lapar yang mungkin terasa lebih berat di siang hari akibat tidak sahur juga tidak memengaruhi keabsahan ibadah tersebut.

Selain itu, Buya Yahya juga meluruskan kekeliruan masyarakat mengenai istilah imsak. Waktu imsak bukanlah batas larangan makan dan minum, melainkan peringatan untuk bersiap menyambut azan Subuh. Seseorang masih diperbolehkan makan dan minum hingga azan Subuh berkumandang.

“Jadi imsak itu siap-siap masuk waktu subuh, ketika sudah azan (Allahu Akbar Allahu Akbar) nggak boleh makan, kalau sengaja ditelan maka batal,” tegas Buya Yahya.

Kedudukan Sahur dan Niat Menurut 4 Madzhab Fiqih

Mengutip buku Bekal Ramadhan dan Idul Fithri 2: Niat dan Imsak yang disusun oleh Saiyid Mahadhir Lc MA, sahur merujuk pada waktu sepertiga malam akhir hingga menjelang Subuh. Mengenai keterkaitan antara sahur, niat, dan keabsahan puasa, para ulama madzhab memiliki pandangan tersendiri sebagaimana dirangkum dalam buku Fikih Empat Madzhab Jilid 2:

Madzhab Syafi’i

Menurut Madzhab Syafi’i, niat adalah rukun puasa, sedangkan sahur bukanlah rukun maupun syarat sah. Niat wajib diperbaharui setiap hari dan dilakukan pada malam hari sebelum fajar.

Makan sahur saja tidak otomatis mewakili niat, kecuali jika saat makan sahur terlintas di pikirannya keinginan berpuasa esok hari. Namun, jika waktunya sudah sangat mendesak mendekati Subuh/imsak dan belum sempat sahur, aktivitas makan sahurnya saat itu dianggap dapat mewakili niat puasa.

Madzhab Hanafi

Madzhab Hanafi berpendapat niat merupakan syarat sah puasa, sementara sahur bukan syarat sah. Tanpa niat, puasa tidak sah.

Niat cukup ditanamkan di dalam hati (meski disunnahkan melafalkannya). Menurut madzhab ini, aktivitas makan sahur sudah otomatis mewakili niat puasa, kecuali jika orang tersebut saat makan sahur berniat bukan untuk berpuasa.

Madzhab Maliki

Madzhab Maliki berpendapat niat berkedudukan sebagai syarat sah puasa (baik puasa wajib maupun sunnah), sedangkan sahur bukan syarat sah. Waktu berniat terbentang dari terbenamnya matahari hingga fajar menyingsing (bahkan 1 detik sebelum Subuh tetap sah).

Aktivitas makan sahur secara hukum sudah mewakili niat puasa, meskipun tidak terlintas sama sekali niat di benaknya saat makan. Karena orang yang sahur dipastikan memiliki maksud untuk berpuasa.

Madzhab Hambali

Madzhab Hambali berpendapat niat adalah syarat sah puasa di samping suci dari haid dan nifas. Sahur tidak termasuk syarat sah.

Untuk puasa wajib, niat dilakukan antara terbenam matahari hingga fajar. Namun khusus puasa sunnah (seperti puasa Senin Kamis), niat boleh dilakukan meskipun sudah lewat tengah hari, dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa (seperti makan atau minum) sejak fajar hingga ia berniat.

Dengan demikian, menjalankan puasa Senin Kamis tanpa sahur hukumnya adalah sah, karena sahur berstatus sunnah dan bukan syarat sah puasa. Kunci utama keabsahan puasa terletak pada niat.

Khusus untuk puasa sunnah, jika seseorang terbangun di pagi hari tanpa sempat sahur dan belum berniat di malam hari, Anda tetap dapat berniat di pagi atau siang hari selama belum mengonsumsi makanan/minuman dan tidak melakukan hal yang membatalkan puasa.

Wallahu a’lam.

(hnh/inf/detik)