Jakarta, bisnissumsel.com –
Pulau Okunoshima di Jepang yang dikenal sebagai Pulau Kelinci kini menghadapi masalah baru akibat overtourism. Populasi kelinci yang melonjak dan kebiasaan wisatawan memberi makan membuat satwa itu kehilangan habitat alaminya hingga kini mulai diburu babi hutan.
Populasi kelinci di pulau itu membesar hingga hampir menghabiskan seluruh tumbuhan yang bisa dimakan. Kelinci pun kini sangat bergantung pada makanan yang dibawa pengunjung.
Tumpukan makanan yang ditinggalkan wisatawan bahkan kerap terlihat di sekitar pulau, termasuk sebelum mereka kembali naik feri.
Mengutip The Globe and Mail, Jumat (28/8/2026) populasi babi hutan di Okunoshima juga terus bertambah. Satwa tersebut kini diketahui memangsa kelinci, perilaku yang tergolong sangat jarang terjadi di alam.
“Mereka memburu kelinci. Hal itu sangat mengejutkan bagi kami,” kata Pakar Ekologi Konservasi dari Universitas Fukushima, Shingo Kaneko.
Menurut Kaneko, babi hutan bukan hewan karnivora. Satwa tersebut memang memakan beragam makanan, termasuk bangkai, tetapi biasanya tidak memburu hewan hidup.
Babi hutan sebenarnya diperkirakan datang ke Okunoshima dengan berenang dari daratan utama Jepang. Sementara itu, kelinci bukan satwa asli pulau tersebut.
Kebiasaan wisatawan memberi makan membuat kedua satwa semakin terbiasa dengan keberadaan manusia. Kelinci pun diduga kehilangan rasa takut alaminya terhadap babi hutan sehingga lebih mudah menjadi mangsa.
Catatan tertua mengenai babi hutan memangsa kelinci di Okunoshima berasal dari 2017. Kaneko menjelaskan perilaku berburu itu sendiri jarang terlihat, apalagi ketika dilakukan di sekitar manusia.
“Biasanya sangat sulit melihat hewan benar-benar berburu di alam. Ini menunjukkan mereka sudah sangat terbiasa dengan keberadaan manusia, dan hal itu juga berbahaya,” ujarnya.
Penelitian Kaneko juga menemukan bahwa kelinci di Okunoshima memiliki keragaman genetik yang cukup tinggi. Temuan tersebut membantah dugaan bahwa seluruh kelinci merupakan keturunan hewan yang kabur dari fasilitas penelitian gas beracun yang pernah beroperasi di pulau itu pada 1929-1945.
Ia menyebut kelinci kemungkinan beberapa kali dilepas ke pulau tersebut, termasuk pada 1970-an. Di tengah meningkatnya overtourism di Jepang, ia mendorong adanya aturan lebih ketat terkait pemberian makanan serta pemantauan populasi kelinci, babi hutan, dan tumbuhan.
“Kami tidak ingin menghentikan pariwisata, tetapi tujuannya harus membuat pariwisata menjadi lebih berkelanjutan,” ucap Kaneko.
(upd/ddn/detik)
















