Washington, bisnissumsel.com –
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance ogah mengkategorikan konflik dengan Iran sebagai sebuah perang, meskipun bentrokan terus berlanjut enam bulan setelah dimulainya konflik tersebut.
Pernyataan Vance muncul di tengah tanda-tanda yang semakin kuat bahwa Presiden AS Donald Trump berupaya mengakhiri konflik dengan Iran yang telah membebani pemerintahannya.
“Saya tidak akan menyebutnya sebagai perang. Saat ini, tidak ada aksi tembak-menembak yang aktif,” kata Vance dalam sebuah pengarahan di Gedung Putih saat ditanya apakah konflik itu akan berakhir sebelum pemilihan umum paruh waktu AS pada bulan November, dilansir AFP, Jumat (4/9/2026).
“Saya mengakui ada tempat-tempat di mana situasi sempat memanas,” tambahnya.
Namun ia menyatakan bahwa operasi tempur berskala besar hanya berlangsung selama enam minggu setelah perang AS-Israel dimulai pada 28 Februari.
“Namun, saat Anda bertanya kapan ini akan berakhir, pertanyaan Anda sama saja dengan bertanya kapan pihak Iran akan berhenti menembaki kapal-kapal? Kenyataannya, saya tidak tahu jawabannya. Anda harus bertanya kepada pihak Iran,” ujarnya.
Setelah beberapa minggu tenang, bentrokan baru kembali terjadi akibat serangan AS pada hari Minggu, yang memperparah kebuntuan dalam perang enam bulan tersebut. Sementara Iran terus memegang kendali ketat atas Selat Hormuz yang strategis.
Vance menegaskan bahwa AS tidak akan membuka kembali pembicaraan dengan Iran sampai negara itu menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial.
Namun, dengan adanya risiko harga bahan bakar yang dapat menyebabkan Partai Republik-partai pendukung Trump-kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilu mendatang, pemerintahannya mulai menyebarkan pesan bahwa arus minyak yang melewati jalur perairan tersebut kini telah kembali ke tingkat sebelum perang.
(fas/fas/detik)















