Takut Makan Karbo usai Program Defisit Kalori? Dokter Gizi Ingatkan Bahayanya

Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH

Jakarta, bisnissumsel.com –

Seseorang yang sedang atau telah menyelesaikan program defisit kalori, tak jarang dihinggapi rasa cemas berlebih untuk mengonsumsi karbohidrat (carbo phobia). Muncul ketakutan bahwa mengonsumsi karbohidrat, terutama nasi, akan seketika merusak hasil diet dan mengembalikan berat badan ke angka semula.

Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menegaskan bahwa pola pikir menghindari karbohidrat secara total adalah kekeliruan besar. Sebab, tubuh manusia secara fisiologis tetap memerlukan asupan karbohidrat dalam persentase yang dominan.

“Jangan juga langsung nol karbohidrat. Yang tadi bisa terjadi kayak lemes, terus misalnya jadi ngantuk karena kekurangan karbonya,” ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (24/9/2026).

“Karena tubuh kita tetap butuh karbohidrat, 50 persen tetap butuh karbohidrat. Paling rendah itu di 45 persen,” sambungnya.

dr Yaze menjelaskan bahwa batasan asupan karbohidrat, baru akan disesuaikan secara khusus jika seseorang memiliki riwayat kondisi medis tertentu, seperti Diabetes Melitus (DM).

“Kecuali kayak orang yang punya penyakit diabetes melitus, baru itu nanti dihitung lagi kebutuhan karbohidratnya, sesuai dengan tren gula darahnya, sering naik atau sering malah turun,” jelasnya.

Opsi Karbohidrat Selain Nasi

Bagi orang yang masih dibayangi rasa takut atau trauma mengonsumsi nasi putih pasca diet, dr Yaze menyarankan untuk beralih ke sumber karbohidrat alternatif yang tak kalah bernutrisi.

Ia mengingatkan bahwa sumber karbohidrat sangat beragam dan tidak terbatas pada nasi semata.

“Tapi sebenarnya karbohidrat itu kan bukan cuma dari nasi. Jadi misalnya kayak jagung, terus ada singkong, nah itu bisa juga tuh, kamu enggak harus dari nasi. Ada kentang, jagung, bihun, itu masih oke,” imbaunya.

Kuncinya adalah tidak memusuhi zat gizi karbohidrat melainkan memvariasikannya sesuai porsi harian. Ini dilakukan agar fungsi organ tubuh serta tingkat energi harian tetap terjaga secara optimal.

(sao/up/detik)