Jakarta, bisnissumsel.com –
Al-Rabadhah merupakan tempat Umar bin Khattab RA mendirikan area penggembalaan yang dilindungi sebelum kemudian menjadi tempat persinggahan bagi para jemaah haji dari Irak. Saat ini, Al-Rabadhah dikenal sebagai situs arkeologi yang menyimpan sejarah dari abad-abad awal peradaban Islam.
Mulai dari masjid hingga tangki air bawah tanah, tempat bersejarah ini menjadi saksi kejayaan Islam pada tahun awal-awal peradabannya.
Lokasi Situs Kuno Al-Rabadhah
Mengutip The Islamic Information, situs kuno Al-Rabadhah terletak di dekat Kota Al-Hinakiyah, sekitar 200 km dari Madinah. Situs kuno Al-Rabadhah memiliki peranan penting dalam sejarah peradaban Islam, kaitannya dengan letaknya yang berada di sepanjang Darb Zubaydah, jalur yang menghubungkan Kufah di Irak dengan Makkah. Menilik sejarahnya, Darb Zubaydah dulunya digunakan sebagai jalur para peziarah atau jemaah untuk menunaikan haji di kota suci Makkah.
Sejarah Al-Rabadhah pada Masa Umar bin Khattab
Keberadaan Al-Rabadhah berkaitan erat dengan masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Saat itu, Umar bin Khattab RA menjadikan Al-Rabadhah sebagai lahan penggembalaan unta dan kuda. Sejarah mencatat Al-Rabadhah merupakan kawasan yang dilindungi pada masa awal Islam, bahkan Umar bin Khattab RA langsung yang mengatur perlindungan dan administrasinya.
Temuan di Situs Kuno Al-Rabadhah
Seiring berjalannya waktu, Al-Rabadhah berkembang melebihi sekadar lahan penggembalaan unta dan kuda.
Penggalian arkeologi dilakukan di wilayah Al-Rabadhah dan berhasil mengungkap sejumlah temuan bersejarah yang menggambarkan kehidupan di Al-Rabadhah zaman dulu. Masjid, rumah, bangunan besar, pasar, area manufaktur, fasilitas penyimpanan, hingga tangki air bawah tanah ditemukan di situs kuno Al-Rabadhah. Para peneliti juga menemukan tembikar, keramik, kaca, benda-benda logam, perhiasan, koin, dan prasasti.
Menurut publikasi King Saud University, sejumlah material kaca atau barang pecah belah turut ditemukan di Al-Rabadhah. Atas penemuan ini, dilakukan penelitian berdasarkan metode analisis dan klasifikasi.
Dari 29 barang kaca yang menjadi sampel dalam penelitian, ada 26 botol, dua cangkir, dan sebuah alat penghisap. Hasil penelitian menunjukkan barang pecah belah di Al-Rabadhah adalah peralatan untuk menyimpan cairan, baik yang berkaitan dengan makanan, parfum, obat-obatan, peralatan untuk menyimpan dan menyajikan makanan, serta instrumen medis dan perlengkapan mandi.
Penelitian juga menyimpulkan temuan ini menunjukkan hubungan antarnegara dan budaya tetangga melalui aktivitas haji dan perdagangan, karena keduanya dianggap sebagai media utama yang efektif perihal akulturasi budaya.
Penggalian yang dilakukan di Al-Rabadhah, menurut situs Explore Here, juga menemukan bangunan mirip istana dengan 13 ruangan di sekitar halaman tengah, dengan tanda-tanda pembuatan roti, penyimpanan biji-bijian, pembuatan kaca, serta rumah-rumah kecil yang dibangun dengan batu bata dan lumpur kering di atas fondasi batu dan tanpa kayu.
Situs kuno Al-Rabadhah memiliki arti penting historis dan religius sebagai tempat Abu Dharr al-Ghifari, sahabat Rasulullah SAW menghabiskan tahun-tahun terakhirnya sebelum wafat.
(kri/kri/detik)
















