Jakarta, bisnissumsel.com –
Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa menimbulkan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari sakit kepala, mual, hingga tubuh terasa cepat lelah. Spesialis paru Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan orang yang terpapar asap karhutla sering kali tidak menyadari bahwa keluhan yang dialami berkaitan dengan polusi tersebut.
Hal ini sejalan dengan temuan literatur dan penelitian yang pernah dilakukannya bersama tim saat terjadi kebakaran hutan di Palembang dan Riau pada 2015.
“Umumnya masyarakat yang terpajan terhadap asap kebakaran hutan itu sering kali tidak merasakan keluhan itu sebagai sebuah tanda, bahwa itu sebenarnya dampak dari asap kebakaran hutan,” ujar Prof Agus dalam tayangan detikSore, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, salah satu komponen berbahaya dalam asap karhutla adalah karbon monoksida (CO). Paparan gas ini dapat menimbulkan gejala awal berupa sakit kepala, mual, dan kelelahan.
Pada konsentrasi yang lebih tinggi, paparan karbon monoksida dapat menyebabkan sakit kepala hebat, sesak napas, hingga mual dan muntah.
Selain karbon monoksida, asap karhutla juga mengandung gas iritan dan partikel halus atau particulate matter (PM) yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.
Paparan komponen tersebut, lanjutnya, dapat memicu sejumlah keluhan, seperti mata merah dan berair, hidung berair, sakit tenggorokan, serta batuk-batuk. Keluhan ini muncul ketika gas dan partikel yang terhirup mengiritasi lapisan pelindung saluran pernapasan.
“Gas maupun partikel yang dihirup menyebabkan epitel sawar napas itu teriritasi, sehingga terasa gatal, ada sel yang memproduksi dahak, jadi dahaknya menjadi banyak,” jelasnya.
Iritasi tersebut juga dapat menyebabkan pembengkakan saluran pernapasan yang memicu sesak napas. Karena itu, dampak paparan asap karhutla tidak hanya berupa keluhan pada mata, hidung, dan tenggorokan, tetapi juga dapat mengganggu pernapasan.
Oleh karena itu, Prof Agus mengatakan orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan, terutama asma, perlu lebih waspada terhadap paparan asap karhutla. Paparan tersebut dapat memicu kekambuhan sehingga keluhan asma menjadi lebih sering muncul.
“misalnya dia punya penyakit asma, ya, itu sering timbul keluhannya akan kambuh, asmanya jadi sering muncul, ya, dan akhirnya napasnya bunyi, akhirnya harus ke rumah sakit, nah, ini sebenarnya adalah dampak-dampak dari dampak akut yang muncul, karena asap kebakaran hutan,” ucap Prof Agus.
(suc/kna/detik)

















