Jakarta, bisnissumsel.com –
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengubah nama gedung kesenian di AS, Kennedy Center menjadi Trump Kennedy Center. Penambahan nama Trump di gedung itu justru bikin pihak pengelola mengalami kerugian besar karena ada seorang musisi membatalkan konsernya.
Dilansir BBC, Senin (29/12/2025), Kepala Pusat Kennedy Center Richard Grenell menuntut ganti rugi kepada musisi Chuck Redd karena telah membatalkan konser Natal 2025 secara sepihak. Pembatalan itu dinilai ada faktor politik karena penamaan “Trump” pada gedung kesenian tersebut.
Grenell mengirim surat kepada Redd atas keputusannya yang membatalkan konser Natal di Kennedy Center. Ia mengecam keputusan tersebut yang dianggap sebagai aksi politik dan menuntut ganti rugi kepada Redd sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 16,7 miliar (kurs Rp 16.780).
“Keputusan Anda untuk menarik diri pada saat-saat terakhir menjelang konser secara eksplisit sebagai tanggapan atas perubahan nama Kennedy Center adalah contoh intoleransi klasik dan sangat merugikan lembaga seni ini,” kata Grenell di dalam surat tersebut.
Grenell juga mengungkapkan sejumlah kerugian yang dialami Kennedy Center pasca batalnya konser Natal tersebut. Kerugian itu meliputi penyewaan ballroom, penjualan tiket, peralatan, dan dekorasi yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari.
“Ini adalah pemberitahuan resmi bahwa kami akan menuntut ganti rugi sebesar US$ 1 juta dari Anda atas aksi politik ini,” tulis Grenell.
Chuck Redd sebelumnya telah mengirim surat elektronik (email) kepada pihak Kennedy Center mengenai pembatalan konser Natal 2025. Ia secara sepihak membatalkan konser usai mengetahui perubahan nama gedung kesenian itu.
“Ketika saya melihat perubahan nama di situs Kennedy Center dan beberapa jam kemudian di gedung tersebut, saya memilih untuk membatalkan konser kami,” tulis Redd dalam email yang dikirimnya.
Ini bukan kali pertama Redd mengadakan konser musik di Kennedy Center. Musisi berusia 67 tahun itu telah menggelar “Jazz Jams” selama libur Natal sejak 2006. Namun, konser tahun ini terpaksa dibatalkan gegara pembaruan nama menjadi Trump Kennedy Center.
Sebelumnya dewan pengurus Kennedy Center memutuskan untuk mengganti nama Kennedy Center dengan menyelipkan nama Donald Trump, sehingga menjadi Trump Kennedy Center. Keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan kepada Trump sebagai presiden AS.
Perubahan nama tersebut mendapat kecaman dari keluarga John F. Kennedy. Sejumlah pihak juga meragukan apakah dewan pengawas memiliki wewenang untuk mengganti nama gedung tersebut yang ditetapkan oleh Kongres pada 1964 sebagai monumen untuk memperingati Kennedy.
Usut punya usut, ketua Kennedy Center saat ini dipimpin oleh Donald Trump. Ia juga yang memilih sendiri anggota dewan pengawas setelah memecat seluruh anggota dewan yang menjabat sebelumnya.
Keponakan John F. Kennedy, Maria Shriver mengatakan pengambilan keputusan tersebut dinilai di luar akal sehat. Maria menyebut Trump sebagai orang yang terlalu obsesif tapi dengan cara yang aneh.
“Sungguh di luar akal sehat jika berpikir dapat menambahkan namanya di depan nama Presiden Kennedy dapat diterima. Ini benar-benar aneh! ini obsesif dengan cara yang aneh,” tutur Maria dikutip dari CNN.
Nama John F. Kennedy Center for the Performing Arts telah tercantum dalam undang-undang federal. Gedung ini mulai dibangun pada 1964 dan diresmikan pada 1971.
Gedung kesenian yang terletak di Washington D.C itu mengusung arsitektur modernisme monumental khas Amerika pada era 1960-an. Hampir seluruh interior Kennedy Center mengusung marmer putih yang dikirim langsung dari Italia seberat 3.700 ton.
Gedung yang menghadap ke Sungai Potomac itu memiliki interior yang luas dan mengusung langit-langit tinggi. Terdapat tiga aula besar di dalam Kennedy Center, yakni Concert Hall, Opera House, dan Eisenhower Theater. Ketiga aula itu kerap digunakan untuk menggelar acara teater hingga opera.
(ilf/das/detik)
















