Jakarta, bisnissumsel.com –
Di saat negara lain berlomba membangun kota modern dengan bahan utama beton agar mudah perawatannya. Swedia justru tengah berambisi membangun kota kayu terbesar untuk menekan emisi dari konstruksi.
Dilansir dari CNBC, lokasi kota kayu bernama Stockholm Wood City ini berada di jantung Swedia, yakni Stockholm. Lebih tepatnya di Sickla, sebuah kawasan industri di selatan kota Stockholm yang dulunya dikenal sebagai pusat manufaktur mesin diesel.
Pengembangnya Atrium Ljungberg akan mengembangkan kota tersebut dengan modal 12 miliar krona Swedia atau Rp 22 triliun (kurs Rp 1.849). Kota tersebut luasnya sekitar 250 ribu meter persegi.
Stockholm Wood City tidak dibangun dari 0. Ada beberapa bangunan lama yang terbuat dari kayu akan dipertahankan. Bangunan tersebut akan diubah menjadi perpustakaan atau bioskop. Ada juga bangunan baru rumah, kantor, sekolah, dan toko-toko yang tentu dibuat dari kayu. Bangunan di sana akan memakai kayu laminasi silang pada bagian inti bangunan, lantai, dan dindingnya.
Kenapa kawasan Sickla dipilih? Håkan Hyllengren, kepala pengembangan bisnis di Atrium Ljungberg, mengatakan selain karena latar belakang kota tersebut, Sickla juga ingin dijadikan kota pembangunan berkelanjutan.
Pemerintah Swedia menaruh perhatian besar perihal emisi yang dihasilkan dari sektor konstruksi. Besar emisi tersebut sekitar 37 persen emisi karbon dunia dan menjadi penyebab terbesar emisi gas rumah kaca, menurut Program Lingkungan PBB. Proyek kota ini sejalan dengan target Swedia dalam mengurangi emisi konstruksi sampai nol pada tahun 2030.
“Kita benar-benar berada di sektor di mana kita dapat membuat perubahan, jika kita dapat membangun dengan cara yang berbeda dan kita dapat mengelola bangunan dengan cara yang lebih ramah lingkungan,” kata Hyllengren, dilansir dari CNBC, Kamis (5/11/2026).
Kayu dipilih karena emisi yang dihasilkan jauh lebih rendah daripada bangunan dari baja atau beton. Sebuah studi tahun 2024 yang dilakukan oleh para akademisi dari USDA Forest Service menunjukkan bangunan kayu memiliki potensi pemanasan global 81 persen lebih rendah daripada beton dan 76 persen lebih rendah dari baja.
Dilansir dari media lokal Swedia, Mitti, Stockholm Wood City akan menyediakan 7.000 lowongan pekerjaan dan 2.000 rumah di lahan seluas 250.000 meter persegi. Konstruksi pertama dilakukan pada musim gugur 2024. Dimulai dengan membangun 80 rumah di blok 7 di Nobelberget dan Kampus Sickla di Marcusplatsen dengan ruang untuk 2.300 mahasiswa. Distrik 7 dan Kampus Sickla kini menjadi dua distrik pertama yang selesai dibangun dari total 25 distrik. Target penyelesaian masih cukup lama, yakni 2035-2040.
Sejauh ini, dua dari 25 blok telah selesai, yakni Kampus Sickla terdiri dari sekolah YBC, Rytmus, dan Designgymnasiet serta rumah-rumah kayu pertama.
“Jadwal keseluruhan tetap berlaku. Pada saat yang sama, Wood City adalah proyek jangka panjang di mana kecepatannya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan permintaan. Dalam pasar yang kuat, kami terus melihat bahwa rentang waktu 2035-2040 adalah realistis (selesai),” tulis Håkan Hyllengren.
(aqi/zlf/detik)
















