Jakarta, bisnissumsel.com –
Peserta Jalur Disabilitas Universitas Negeri Jakarta (UNJ) meningkat 10,4% dibanding tahun lalu. Dari 125 peserta tahun 2025, Jalur Disabilitas UNJ 2026 kini menarik 138 peserta.
Kepala Kantor Admisi UNJ, I Wayan Sugita, mengatakan peningkatan jumlah peserta menunjukkan semakin besarnya minat penyandang disabilitas untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
“Kenaikan ini menunjukkan semakin banyak penyandang disabilitas yang tertarik melanjutkan pendidikan tinggi dan melihat UNJ sebagai pilihan untuk melanjutkan studi,” ujar Wayan dalam laman UNJ dikutip Senin (20/7/2026).
Adapun tiga fakultas yang paling banyak diminati peserta jalur disabilitas tahun ini adalah Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Pendidikan, serta Fakultas Bahasa dan Seni degan program studi favorit Program Sarjana Terapan Seni Kuliner dan Pengelolaan Jasa Makanan.
Pelaksanaan Jalur Disabilitas UNJ Menyesuaikan Kebutuhan Peserta
Pelaksanaan Jalur Disabilitas UNJ telah dilaksanakan secara luring di Gedung Dewi Sartika (GDS) UNJ, Sabtu (18/7/2026). Untuk memastikan seluruh peserta dapat mengikuti ujian dengan baik, UNJ menyediakan berbagai bentuk pendampingan sesuai kebutuhan peserta.
Peserta tunanetra, autisme, ADHD, tunagrahita, tunadaksa, maupun tunarungu memperoleh dukungan dari Relawan Disabilitas UNJ (REDIS) yang mendampingi sejak kedatangan di kampus hingga seluruh tahapan seleksi selesai. Selain itu, panitia juga menempatkan juru bahasa isyarat di ruang-ruang ujian.
KoordinatorREDISPenmabaDisabilitas,PrilaAhdanila, mengatakan kebutuhan pendampingan peserta telah dipetakan sebelum pelaksanaan ujian.
“Data peserta dan kebutuhan pendampingannya kami terima dari Admisi. Setelah itu kami membagi tugas relawan agar setiap peserta memperoleh dukungan yang sesuai,” kata Prila.
Tahun ini REDIS mengerahkan 65 relawan yang berasal dari berbagai angkatan dan program studi. Para relawan juga telah mendapatkan pelatihan bahasa isyarat dan pendampingan disabilitas secara berkala.
“Relawan membantu mobilisasi peserta dan menjembatani komunikasi antara panitia dengan peserta disabilitas, sementara proses administrasi dan verifikasi tetap ditangani oleh pihak Admisi,” ujarnya.
(nir/nwk/detik)















