Tegang! Kuba Tembak Kapal Cepat AS, 4 Orang Tewas

1

Jakarta, bisnissumsel.com –

Petugas perbatasan Kuba telah menghentikan sebuah kapal cepat yang memasuki perairan Kuba dan melepas tembakan ke salah komandan Kapal patroli Kuba. Perahu cepat tersebut terdaftar di negara bagian Florida, AS.

Perahu tersebut nampak pada Rabu pagi (25/2) waktu setempat di perairan teritorial Kuba dekat Cayo Falcones. Perahu itu mendekat hingga sekitar satu mil laut dari provinsi Villa Clara. Ketika unit patroli perbatasan mendekati perahu untuk mengidentifikasinya, awak kapal melepaskan tembakan.

Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri Kuba, empat orang dilaporkan tewas dan enam lainnya terluka. Pemerintah Kuba lewat penyataan resminya menyatakan bahwa “Semua yang terlibat adalah warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat”.

Pemerintah Kuba menyebut penumpang kapal tersebut memiliki agenda teror dan berencana memasuki negara itu secara ilegal. Senjata, bahan peledak, dan seragam kamuflase di temukan dalam kapal. Selain itu, kesepuluh penumpang diketahui memiliki “riwayat aktifitas kriminal dan kekerasan”. Sejauh ini investigasi masih berlangsung dan motif pelaku belum diketahui.

Melansir kantor berita AP, Pemerintah Kuba mengidentifikasi tiga penumpang kapal sebagai Amijail Sánchez González, Leordan Enrique Cruz Gómez, dan Conrado Galindo Sariol. Amijali dan Leordan sebelumnya menjadi buron pihak berwenang Kuba karena keterlibatannya dalam promosi, perencanaan, pengorganisasian, pembiayaan, dukungan, atau pelaksanaan tindakan yang dilakukan di wilayah nasional atau di negara lain, sehubungan dengan tindakan terorisme.

Satu penumpang lainnya adalah Conrado Galindo Sario. Situs berita yang berbasis di AS yang telah lama menyerukan perubahan pemerintahan di Kuba, Martí Noticia, menyebut Conrado sebagai sebagai “legenda” dan mantan tahanan politik yang kerap mendukung perjuangan warga Kuba terutama di timur Pulau tersebut untuk “mencapai kebebasannya.”

Dalam wawancaranya Juni 2025 lalu Conrado menyebut “Pemimpin rezim sedang berkeliling ke seluruh Kuba untuk mencoba meredam situasi yang segera memburuk, karena mereka sudah kehilangan kendali dan tidak mampu menghentikannya, mereka mencari cara agar protes tidak menyebar ke daerah lain.”

Selain itu, pemerintah Kuba menyatakan bahwa pihaknya telah menangkap Duniel Hernández Santos, yang menyiapkan masuknya kelompok teroris ini. Pemerintah menambahkan bahwa Duniel “dikirim dari Amerika Serikat untuk menjamin penerimaan infiltrasi bersenjata, yang saat ini telah mengakui tindakannya.” Pernyataan pemerintah Kuba hingga saat ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Satu dari empat korban tewas yang berhasil diidentifikasi yaitu Michel Ortega Casanova. Kakak dari Michel, Misael Ortega Casanova mengatakan kepada kantor berita AP pada Rabu (25/2) bahwa dirinya sedang berduka atas kematian saudaranya dan menyesalkan sang kakak terjebak dalam upaya “obsesif dan brutal” untuk kebebasan Kuba.

“Hanya kami orang Kuba yang tinggal di Kuba lah yang mengerti,” kata Misael Ortega Casanova, merujuk pada “penderitaan besar” yang dialami dirinya dan orang Kuba lainnya yang tinggal di pulau itu.

Dia mengatakan bahwa saudaranya adalah merupakan sopir truk dan warga negara Amerika Serikat yang telah tinggal lebih dari 20 tahun di AS, meninggalkan istrinya, ibunya, dua saudara perempuannya, dan seorang putri yang sedang mengandung.

“Tidak ada yang tahu (tentang rencana Michel),” kata Misael tentang aksi saudara laki-lakinya, “Ibu sangat terpukul,” seraya menambahkan, “Mereka begitu terobsesi sehingga tidak memikirkan konsekuensinya atas kehidupan mereka sendiri.”

Dia berharap kematian saudaranya jadi pengorbanan yang bermakna, “Mungkin hal itu mewujudkan Kuba merdeka suatu hari.”

Rubio: Insiden yang ‘sangat tidak biasa’

Di Washington, para pejabat pemerintah bereaksi dengan hati-hati. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada wartawan bahwa Gedung Putih sedang menyelidiki insiden tersebut. Ia berharap insiden itu “tidak seburuk yang kita khawatirkan.” Sejauh ini, pemerintah AS “belum memiliki banyak detail.”

Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga berkomentar selama kunjungannya ke St. Kitts dan Nevis. Ia mengatakan bahwa berbagai bagian pemerintah AS sedang mengumpulkan dan memverifikasi informasi. Hingga ada bukti yang meyakinkan, ia tidak akan berspekulasi. “Cukuplah dikatakan bahwa sangat tidak biasa melihat baku tembak terjadi di laut lepas,” tegas Rubio. Ia menambahkan bahwa hal seperti ini sudah lama tidak terjadi dengan Kuba. Bagaimanapun, pejabat AS tidak terlibat.

Kedutaan Besar AS di Havana sedang berupaya menentukan apakah para korban adalah warga negara AS atau penduduk tetap Amerika Serikat. Selain itu terdaftarnya kapal di negara bagian Florida juga masih dalam penyelidikan.

Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, mengumumkan penyelidikan bersama dengan otoritas federal. “Pemerintah Kuba tidak dapat dipercaya, dan kami akan melakukan segala daya upaya untuk meminta pertanggungjawaban para komunis ini,” kata jaksa yang juga politisi Partai Republik itu.

Kuba terletak hanya sekitar 145 kilometer dari ujung selatan Florida.

Pemerintah Kuba menolak tuduhan tersebut dan menekankan hak untuk membela negara. “Kuba menegaskan kembali komitmennya untuk melindungi perairan teritorialnya, dengan pertahanan nasional sebagai pilar fundamental bagi negara Kuba untuk menjaga kedaulatan dan stabilitasnya di kawasan ini,” demikian pernyataan kantor kepresidenan melalui Platform X.

Terjadi setelah AS melonggarkan embargo minyak

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana. Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat sekali lagi meningkatkan tekanan pada kepemimpinan komunis.

Sejak Desember, Kuba tidak lagi menerima minyak dari Venezuela, setelah Trump memerintahkan blokade total terhadap kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang membawa kiriman dari negara mitra Amerika Selatan tersebut. Ia juga mengancam akan mengenakan tarif pada negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Akibatnya, Meksiko, pemasok terbesar Kuba, antara lainnya turut menghentikan ekspor minyak.

Blokade tersebut memperburuk krisis energi dan ekonomi yang sudah parah di pulau itu dan menyebabkan kekurangan pasokan akut. Pemerintah Kuba memerintahkan langkah-langkah penghematan energi yang drastis, membatasi kegiatan sekolah dan transportasi umum, serta mengurangi jam kerja.

Namun, baru-baru ini, pemerintah AS mengumumkan akan kembali mengizinkan penjualan minyak Venezuela kepada penduduk Kuba dan sektor swasta. Menurut Departemen Keuangan AS, ekspor akan diizinkan untuk tujuan komersial dan kemanusiaan, sementara beberapa sanksi akan tetap berlaku.

Pada saat yang sama, Rubio menuntut “reformasi” kepemimpinan di Havana. “Kuba harus berubah. Negara ini harus berubah secara mendasar karena itulah satu-satunya kesempatan yang dimilikinya untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat,” tegas Menlu AS tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

(ita/ita/detik)