Jakarta, bisnissumsel.com –
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa pihaknya akan berupaya merebut industri minyak mentah Iran. Menurutnya, upaya ini dapat terwujud selama perang AS dan Israel melawan Iran di Timur Tengah berlangsung, meski membutuhkan lebih banyak waktu.
“Dengan sedikit waktu lagi, kita dapat dengan mudah MEMBUKA SELAT HORMUZ, MENGAMBIL MINYAKNYA, dan MENGHASILKAN KEKAYAAN BESAR. AKANKAH INI MENJADI ‘SEMBURAN’ BAGI DUNIA???,” tulis Trump dalam sebuah unggahan media sosial, dikutip dari Aljazeera, Sabtu (4/4/2026).
Selama berminggu-minggu Trump bilang bahwa AS akan segera membuka kembali Selat Hormuz yang diblokir pada awal konflik, sehingga menyebabkan harga energi melonjak drastis.
Pada Maret lalu ia mengatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal-kapal tanker minyak yang melintas di kawasan strategis itu. Namun nyatanya, militer AS mengaku belum siap untuk mengawal kapal-kapal yang bergerak lambat di selat yang sempit itu, di mana kapal-kapal mereka dapat menjadi sasaran empuk bagi drone dan rudal Iran.
Di luar itu, pada awal pekan ini Trump juga sempat mengisyaratkan bahwa pemerintah AS dapat meniru model ‘pengambilalihan’ minyak mentah Venezuela di Iran. Namun, hal itu akan membutuhkan waktu perang yang cukup panjang.
“Kita bisa saja mengambil minyak mereka, tapi Anda tahu saya tidak yakin bahwa orang-orang di negara kita memiliki kesabaran untuk melakukan itu, dan itu sangat disayangkan,” kata Trump.
“Mereka ingin melihat ini berakhir. Jika kita tetap di sana, saya lebih suka mengambil minyaknya saja. Kita bisa melakukannya dengan sangat mudah; saya lebih suka itu. Tetapi orang-orang di negara itu seolah berkata, ‘Menang saja. Kalian menang besar, menang saja. Pulanglah,” serunya lagi.
AS Kuasai Minyak Venezuela
Di Venezuela, sejak pasukan AS menculik Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu, presiden penggantinya, Delcy Rodriguez, telah sepakat untuk bekerja sama dengan pemerintahan Trump menjual sejumlah besar minyak mereka.
Sementara sistem pemerintahan Iran tetap utuh meski terjadi pembunuhan terhadap beberapa pejabat tingginya dan pemboman harian oleh AS dan Israel. Mereka secara nyata tetap memegang kendali atas sumber daya alam negara tersebut, sehingga sampai saat ini belum jelas bagaimana AS dapat menguasai industri minyak mentah Iran maupun membuka Selat Hormuz. Malah, pernyataan Trump bahwa AS akan mengambil minyak Iran seperti bualan semata, dan melanggar hukum internasional.
Sebab berdasarkan doktrin hukum internasional tentang Kedaulatan Permanen atas Sumber Daya Alam yang diadopsi oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1962, minyak dan mineral menjadi milik negara tempat mereka berada.
“Pelaksanaan kedaulatan rakyat dan bangsa atas sumber daya alam mereka secara bebas dan bermanfaat harus didorong oleh rasa saling menghormati antar negara berdasarkan kesetaraan kedaulatan mereka,” demikian bunyi resolusi tersebut.
(igo/ara/detik)















