Jakarta, bisnissumsel.com –
Kanker merupakan penyakit yang kompleks. Berbagai faktor bisa berkontribusi pada perkembangan penyakit ini, salah satunya pola makan.
Pola makan merupakan salah satu faktor gaya hidup terpenting yang perlu dipertimbangkan, sebab sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa makanan dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap jenis kanker tertentu.
Makanan yang Bisa Meningkatkan Risiko Kanker
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM menjelaskan, faktor risiko pemicu kanker pada orang dewasa mayoritas disebabkan oleh gaya hidup dan lingkungan sekitar. Menurutnya, penting untuk memahami berbagai faktor risiko kanker agar penyakit ini bisa dicegah.
“95 faktor persen risiko kanker itu dari lingkungan, gaya hidup, kebiasaan, maupun hal-hal yang masuk dalam tubuh atau kita hirup,” kata Prof Aru kepada detikcom beberapa waktu lalu.
Dikutip dari laman Healthline, beberapa makanan bisa meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2, yang dikaitkan dengan jenis kanker tertentu. Ada pula makanan lain yang mengandung karsinogen, zat berbahaya yang berpotensi menyebabkan kanker.
Berikut di antaranya:
1. Daging Olahan
Daging olahan adalah semua jenis daging yang telah diawetkan dengan cara diasap, diasinkan, hingga dikalengkan. Sebagian besar daging olahan merupakan daging merah. Beberapa contoh daging merah olahan di antaranya:
- Sosis
- Kornet sapi
- Ham
- Hot dog
Metode yang digunakan untuk membuat daging olahan bisa menghasilkan zat karsinogen. Pengawetan daging dengan nitrit juga bisa membentuk karsinogen yang disebut dengan senyawa N-nitroso. Sementara, pengasapan daging bisa menyebabkan terbentuknya Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) yang bersifat karsinogenik.
Sebuah ulasan tahun 2019 menyebut daging merah atau olahan bisa meningkatkan risiko kanker lambung. Kendati demikian, studi lebih lanjut diperlukan untuk mengindentifikasi hubungan ini.
2. Makanan yang Digoreng
Ketika makanan bertepung dimasak dalam suhu tinggi, terbentuk senyawa yang disebut dengan akrilamida. Hal ini bisa terjadi selama menggoreng, memanggang, hingga membakar.
Makanan bertepung yang digoreng memiliki akrilamida. Kandungan ini ada pada produk seperti kentang goreng dan keripik kentang.
Akilamda terbukti bersifat karsinogenik dalam penelitian yang dilakukan pada tikus. Studi pada tahun 2020 menyatakan bahwa akrilamida merusak DNA dan menginduksi apoptosis atau kematian sel.
Mengonsumsi banyak makanan yang digoreng juga meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas. Kondisi ini bisa memicu stres oksidatif dan peradangan, yang selanjutnya meningkatkan risiko kanker.
3. Makanan yang Terlalu Matang
Memasak makanan terlalu lama, terutama daging bisa menghasilkan zat karsinogen. Daging yang dimasak dengan suhu terlalu tinggi akan menghasilkan PAH dan heterocyclic amines (HCA) yang bersifat karsinogenik. Zat-zat ini bisa meningkatkan risiko kanker dengan mengubah DNA sel tubuh.
Food and Drug Administration (FDA) juga menyatakan bahwa memasak makanan bertepung, seperti kentang terlalu lama akan meningkatkan pembentukan akrilamida.
Untuk mengurangi risiko terkena karsinogen dari masak dengan suhu tinggi, coba metode memasak seperti:
- Merebus perlahan (poaching)
- Memasak dengan panci presto
- Memanggang atau membakar dengan suhu lebih rendah
- Memasak perlahan dengan slow cooker.
4. Makanan Manis dan Karbohidrat Olahan
Makanan yang manis dan karbohidrat olahan secara tidak langsung bisa meningkatkan risiko kanker. Beberapa contoh makanan tersebut di antaranya:
- Roti putih
- Nasi putih
- Sereal manis
Mengonsumsi makanan dengan kandungan gula dan pati yang tinggi bisa meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2 dan obesitas. Kedua kondisi ini bisa memicu peradangan dan stres oksidatif yang meningkatkan risiko terkena jenis kanker tertentu.
Sebuah tinjauan tahun 2019 menyatakan bahwa diabetes tipe 2 bisa meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium (rahim).
Untuk itu, coba ganti makanan-makanan tersebut dengan:
- Roti gandum utuh
- Pasta gandum utuh
- Beras merah
5. Alkohol
Ketika mengonsumsi alkohol, hati memecahnya menjadi asetaldehida, senyawa karsinogenik. Menurut tinjauan tahun 2017, asetaldehida meningkatkan kerusakan DNA dan stres oksidatif. Selain itu, senyawa ini juga mengganggu fungsi kekebalan tubuh, sehingga menyulitkan tubuh untuk menargetkan sel prakanker dan kanker.
(elk/up/detik)
















