Jakarta, bisnissumsel.com –
Setelah lebih dari satu dekade terjebak dalam kondisi vegetatif tanpa harapan sembuh, Harish Rana (31), seorang mantan mahasiswa teknik di India, akhirnya diizinkan untuk “pergi” dengan tenang. Mahkamah Agung India mengeluarkan keputusan bersejarah yang mengizinkan penghentian alat bantu hidup bagi Harish, menjadikannya kasus eutanasia pasif pertama yang disetujui pengadilan di negara tersebut.
Tragedi ini bermula pada tahun 2013, ketika Harish terjatuh dari balkon lantai empat asramanya. Cedera kepala hebat membuatnya koma selama 11 tahun. Sejak saat itu, dunianya hanya sebatas tempat tidur rumah sakit; ia bernapas melalui tabung trakeostomi dan makan melalui selang gastrostomi tanpa bisa melihat, mendengar, atau mengenali siapa pun.
Perjuangan Panjang Orang Tua
Diberitakan BBC, selama bertahun-tahun, orang tua Harish, Ashok Rana, berjuang di meja hijau agar putra mereka diizinkan meninggal secara bermartabat. Motivasi mereka bukan karena kurang kasih sayang, melainkan karena rasa lelah yang luar biasa dan kekhawatiran akan masa depan Haris jika mereka tiada.
Seluruh tabungan keluarga telah ludes untuk biaya perawatan yang sangat mahal.
“Ini adalah keputusan yang sulit bagi keluarga kami, tetapi kami melakukan yang terbaik untuk Harish,” ujar Ashok Rana dalam pernyataan emosionalnya setelah putusan tersebut keluar pada Rabu (25/3).
Memahami Eutanasia Pasif vs Aktif
Kasus ini memicu debat etika yang luas di India. Perlu dipahami bahwa India melegalkan eutanasia pasif sejak 2018, yaitu tindakan menghentikan atau menarik perawatan penunjang hidup (seperti alat bantu napas atau selang makanan) agar proses kematian terjadi secara alami. Sementara itu, eutanasia aktif, tindakan sengaja untuk mengakhiri hidup seseorang, tetap ilegal.
Dalam kasus Harish, dua dewan medis telah melakukan penilaian ketat dan menyimpulkan:
Kerusakan Otak Permanen: Peluang untuk pulih dan hidup normal dinyatakan nol atau sangat kecil.
Kondisi Fisik yang Menurun: Harish menderita luka baring (bed sores) yang parah dan seluruh fungsi tubuhnya bergantung sepenuhnya pada bantuan eksternal.
Status Vegetatif: Meskipun ia mengalami siklus tidur dan bangun, tidak ada interaksi bermakna yang terjadi di otaknya.
Keputusan Mahkamah Agung ini kini membuka jalan bagi tim medis untuk menggunakan penilaian klinis mereka dalam menghentikan perawatan Harish secara bertahap, memberikan akhir dari perjuangan sunyi yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
(kna/kna/detik)















