Jakarta, bisnissumsel.com-
Arab Saudi mulai meningkatkan ekspor minyak mentah ke pasar Asia usai lalu lintas Selat Hormuz dibuka. Sebagaimana diketahui, jalur vital tersebut dibuka setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani perjanjian pada bulan lalu.
Berdasarkan data dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler, Arab Saudi telah mengekspor sekitar 34 juta barel minyak melalui Selat Hormuz sejak 17 Juni 2026. Selama dua minggu terakhir lebih dari dua kali lipat dari 15 juta barel dikirim melalui selat tersebut.
“Arus minyak mentah Saudi di dalam Teluk kembali pulih setelah berbulan-bulan pengalihan rute akibat konflik,” kata Analis Kpler, Jashan Prema dikutip dari CNBC, Jumat (3/7/2026).
Kpler menyebut sekitar 24 juta barel minyak mentah Arab Saudi yang dikirim sejak 17 Juni 2026 dimuat selama atau sebelum perang AS-Iran. Hal itu menunjukkan bahwa Arab Saudi sedang ‘membersihkan’ tumpukan kapal tanker minyak yang tidak dapat keluar dari Teluk selama konflik.
“Sekitar 17 juta barel minyak Saudi yang dimuat sebelum perang masih berada di Teluk,” katanya.
Arab Saudi sebagian besar menghentikan pengiriman dari terminal ekspor Teluknya di Ras Tanura dan Juaymah pada 9 Maret 2026 setelah lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz anjlok karena perang AS-Iran. Kerajaan mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui pipa timur-barat ke terminal Laut Merah di Yanbu.
Saat ini Arab Saudi memulai kembali ekspor mereka. Sebanyak 11 kapal tanker super yang menuju kerajaan memasuki Teluk antara 23 Juni dan 1 Juli 2026, di mana delapan dari kapal tanker tersebut telah memuat minyak di terminal Saudi dan lima di antaranya telah keluar dari Selat Hormuz.
Menurut perusahaan intelijen maritim Windward, sekitar 8,5 juta barel minyak mentah melewati Selat Hormuz pada Rabu (1/7). Sebagai perbandingan, hampir 15 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut pada 2025 menurut Badan Informasi Energi AS.
(aid/ara/detik)















