Trump Tak Suka Exxon & Chevron Untung Gede Gara-gara Harga Minyak Tinggi

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump/Foto: REUTERS/Daniel Heuer

Jakarta, bisnissumsel.com –

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku tidak suka karena Chevron dan ExxonMobil meraup keuntungan besar di tengah gejolak harga minyak mentah akibat perang dengan Iran.

“Mereka meraup terlalu banyak uang dari kelangkaan ini. Saya tidak menyukainya,” ujar Trump di Gedung Putih, dikutip dari CNBC, Selasa (4/8/2026).

Pada Jumat lalu, ExxonMobil dan Chevron melaporkan windfall profit untuk kuartal-II 2026. Laba Chevron meroket hampir 400% menjadi US$ 12 miliar. Angka ini naik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 2,5 miliar.

Keuntungan ExxonMobil bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 14,5 miliar dari sebelumnya US$ 7,1 miliar.

“Chevron, terlalu banyak uang. ExxonMobil, terlalu banyak uang. Mereka harus mengembalikan sebagian keuntungan itu kepada masyarakat dan sebaiknya mereka menurunkan harga eceran, harga untuk konsumen,” tambah Trump.

Hingga saat ini pihak ExxonMobil dan Chevron belum menanggapi pernyataan Trump tersebut.

Sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu, harga minyak mentah AS sudah merangkak naik sekitar 20%. Iran pun membalas dengan aksi yang berupaya menyetop jalur lalu lintas minyak di Selat Hormuz. Aksi ini pun memicu gangguan pasokan terbesar sepanjang sejarah.

Harga minyak AS, West Texas Intermediate (WTI), dipatok pada harga penutupan rata-rata sekitar US$ 92 per barel sepanjang April hingga Juni. Angka ini melonjak sekitar 27% dibanding kuartal-I 2026.

Akibatnya, harga bensin rata-rata secara nasional di AS tembus US$ 4,10 per galon pada Senin. Angka ini melonjak hampir 40% dibanding harga pada 27 Februari (sebelum perang pecah) yang masih di angka US$ 2,98 per galon, merujuk pada data dari AAA.

Pernyataan terang-terangan dari Trump langsung memukul pergerakan saham emiten minyak tersebut di bursa. Saham Chevron terpantau melemah hampir 2%. Sementara saham Exxon ikut diperdagangkan melemah tipis.

Tekanan pada saham energi ini sebenarnya sudah terjadi sejak Senin. Sebab, harga minyak mentah sempat merosot sekitar 5% di tengah harapan perundingan antara AS dan Iran dapat meredakan eskalasi konflik di Timur Tengah.

(rea/ara/detik)