Jakarta, bisnissumsel.com –
Presiden AS Donald Trump telah menandatangani perintah yang menyerukan pengurangan jumlah total vaksinasi yang diberikan untuk anak-anak pada Senin (11/8). Tak hanya itu, rekomendasi tersebut juga menyarankan agar vaksinasi campak, gondongan, dan rubella (MMR) dalam jadwal vaksinasi diberikan sebagai tiga suntikan terpisah.
“Kita menguranginya,” kata Trump dari Ruang Oval, Gedung Putih.
“Bukan hanya mengurangi jumlah vaksin yang diberikan, atau suntikan, seperti yang mereka sebut, tetapi juga memberikannya dalam serangkaian kunjungan ke dokter.”
Trump membuat serangkaian klaim yang tidak memiliki bukti tentang vaksin. Dikutip dari laman BBC, ia telah lama meragukan keamanan vaksin MMR, tetapi berbagai penelitian tidak menemukan hubungan antara vaksin tersebut dan autisme.
“Beberapa dekade lalu, anak-anak hanya menerima sebagian kecil dari vaksin yang dibutuhkan saat ini,” kata Trump.
“Pada masa itu, orang-orang jauh lebih sehat dan tentu saja tingkat autisme yang tinggi seperti yang kita lihat sekarang tidak ada.”
Ia berulang kali mengatakan bahwa anak-anak disuntik dengan lebih banyak vaksin daripada yang mampu mereka tangani, dengan alasan bahwa suntikan tersebut seharusnya diberikan dengan jarak waktu yang lebih lama. Dikutip dari laman CNN, saat didesak mengenai alasannya, Trump mengatakan bahwa ia telah melakukan hal tersebut pada anak-anak dan mereka tidak mengalami masalah.
“Tidak ada hal buruk yang akan terjadi dari apa yang kita lakukan,” katanya mengenai perubahan yang telah lama diperingatkan oleh para ahli kesehatan akan mengurangi tingkat imunisasi dan membuat anak-anak lebih rentan terhadap penyakit.
“Tidak ada hal buruk yang akan terjadi.”
Senator Partai Republik Bill Cassidy mengatakan bahwa perintah yang diberikan Trump salah. Menurutnya, presiden tidak memiliki keahlian untuk melakukan perubahan ini.
“Vaksin sebagian besar aman. Vaksin efektif. Vaksin TIDAK menyebabkan autisme,” kata Cassidy di X.
“Memecah vaksin berarti anak-anak harus mendapatkan lebih banyak suntikan untuk mendapatkan perlindungan yang sama, bukan lebih sedikit suntikan. Ini akan meningkatkan keraguan dan membuat anak-anak kurang aman.”
Berdasarkan perintah tersebut, kebijakan baru pemerintah menyatakan bahwa semua anak disarankan untuk menerima vaksin campak, gondongan, rubella, difteri, tetanus, pertusis, polio, Hib, penyakit pneumokokus, HPV, dan varisela, atau cacar air.
Hanya populasi berisiko tinggi yang disarankan untuk menerima antibodi Respiratory Syncytial Virus (RSV) serta vaksin hepatitis B, meningokokus B, meningokokus ACWY, dan demam berdarah. Hal ini berbeda dari jadwal vaksinasi sebelumnya yang merekomendasikan agar semua anak menerima sebagian besar vaksin tersebut.
Beberapa vaksin, seperti hepatitis, kini diberikan berdasarkan apa yang disebut sebagai pengambilan keputusan bersama, yaitu melalui diskusi antara orang tua dan tenaga kesehatan. Pendekatan ini juga mencakup vaksin rotavirus, penyakit meningokokus, influenza, dan Covid-19.
Panduan baru pemerintah AS menyarankan agar vaksinasi tersebut diberikan dalam beberapa kunjungan medis. Langkah ini disebut bertujuan memberikan lebih banyak pilihan kepada orang tua terkait waktu dan frekuensi pemberian vaksin.
Namun, Trump memberikan penjelasan yang lebih blak-blakan di Gedung Putih. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak yakin dengan keamanan jadwal vaksinasi yang berlaku saat ini.
“Sederhananya: Sejumlah besar vaksin, sejumlah besar-seperti wadah besar, vaksin saat ini dipompa ke dalam tubuh anak Anda,” kata Trump.
“Kami melakukan 20% dari itu pada setiap kunjungan, dan kami akan memberi jeda waktu antara kunjungan agar tubuh dapat menangani sejumlah besar cairan yang dipompa masuk,” katanya. Kendati demikian, tidak ada bukti yang mendukung klaimnya.
(elk/kna/detik)















