Jakarta, bisnissumsel.com –
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (16/8) mengumumkan telah memerintahkan Pentagon membatasi skala keterlibatan Amerika Serikat dalam latihan militer bersama pasukan Korea Selatan yang berlangsung pekan ini. Keputusan itu memicu kekhawatiran di kalangan warga Korea Selatan dan para pakar yang cemas terhadap memburuknya situasi keamanan di Asia Timur Laut.
Dalam unggahan di media sosial, Trump mengatakan telah memerintahkan Amerika Serikat untuk “secara signifikan mengurangi” keterlibatannya, dengan alasan latihan tersebut “mahal”.
Trump menambahkan bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam latihan itu akan mengirimkan “sinyal yang sepenuhnya tidak pantas dan bermusuhan” kepada Korea Utara, yang menurut dia selama ini “tidak mengancam dan menghormati” kepresidenannya.
Trump seakan mengabaikan rentetan uji coba rudal yang baru-baru ini dilakukan Korea Utara. Pyongyang pada Jumat (14/8) lalu bahkan mengancam akan menerapkan “level baru” penangkalan nuklir sebagai respons atas rencana latihan AS dan Korsel. Media pemerintah Korea Utara menyebut latihan itu sebagai “geladi bersih untuk perang invasi”.
Presiden Amerika Serikat juga mengisyaratkan bahwa keputusannya sebagian dipengaruhi penolakan pemerintah Korea Selatan untuk membantu “denuklirisasi” Iran.
Pada Senin (17/8), Trump kembali menegaskan keputusannya untuk membatasi cakupan dan skala latihan Ulchi Freedom Shield, yang dimulai pada hari yang sama dan sedianya berlangsung sampai 27 Agustus. Kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengatakan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah merespons tawarannya untuk melanjutkan kembali perundingan.
Retaknya aliansi Amerika Serikat di Asia
Pengurangan skala latihan tahunan itu terjadi ketika posisi Kim kian menguat berkat aliansi yang semakin erat dengan Rusia. Pada saat yang sama, dalam beberapa tahun terakhir, Pyongyang telah menghapus sejumlah pagar pengaman mendasar dalam hubungan antar-Korea dengan secara resmi meninggalkan tujuan reunifikasi yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Korea Utara juga mengubah konstitusinya untuk menetapkan Korea Selatan sebagai musuh utamanya.
“Penghematan biaya dari pengurangan latihan ini marjinal, sementara manfaat diplomatik bagi hubungan dengan Korea Utara masih diragukan,” kata Leif-Eric Easley, profesor studi internasional di Ewha Womans University, Seoul.
Easley menambahkan bahwa Kim menunjukkan “tidak ada minat” terhadap tawaran Washington dan Seoul untuk membahas kemungkinan penghapusan persenjataan nuklir Korea Utara.
“Unggahan terbaru Trump di media sosial tentang Kim Jong Un menunjukkan kesediaan untuk kembali terlibat, tetapi Korea Utara sibuk meraup keuntungan dari perang Rusia melawan Ukraina sembari memodernisasi militernya sendiri,” kata Easley kepada DW.
Dia menambahkan bahwa pengurangan latihan pertahanan gabungan “dapat merusak koordinasi aliansi, memperlambat proses Korea Selatan mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas pertahanannya sendiri, dan melemahkan penangkalan terhadap kemungkinan konflik di Asia.”
Korea Selatan berjalan di garis tipis
Kekhawatiran di Korea Selatan tercermin dalam tajuk-tajuk utama surat kabar pada Selasa (18/8). Chosun Ilbo menyoroti pentingnya latihan bersama untuk melindungi negara dari tetangga yang agresif dan tak terduga, serta memperingatkan bahwa Trump mempertaruhkan fondasi aliansi.
David Silbey, profesor sejarah militer dan kebijakan pertahanan di Cornell University, Amerika Serikat, dalam sebuah pernyataan menunjukkan bahwa keputusan tersebut muncul ketika militer Amerika Serikat mengalami kelebihan beban. Angkatan Laut Amerika Serikat bahkan telah mengalihkan pasukan dari Pasifik ke Timur Tengah di tengah perang Iran.
“Mengurangi komitmen terhadap latihan dengan Korea Selatan kemungkinan mencerminkan pengurangan yang bagaimanapun tak terhindarkan,” tulisnya. Dia menambahkan bahwa tawaran perundingan kepada Kim juga mencerminkan “pengabaian Amerika yang terus berlanjut terhadap sekutu-sekutunya”, dan bahwa Taiwan, Jepang, serta Filipina semuanya memperhatikan perkembangan tersebut.
Beijing, tentu saja, juga mencermati perkembangan itu dengan saksama, meski dari posisi sebagai lawan, bukan sekutu, katanya.
Menurut laporan kantor berita AS, Associated Press, Trump mengambil keputusan untuk mengurangi latihan tersebut tanpa berkonsultasi dengan Korea Selatan. Belum jelas bagian mana dari latihan yang akan dikurangi.
Pada Senin, kantor Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengatakan Seoul akan terus “berkoordinasi erat” dengan Amerika Serikat dalam “mempertahankan postur pertahanan gabungan yang kokoh serta latihan dan pelatihan bersama”.
Dalam rapat Kabinet rutin pada Selasa, Presiden Lee memuji aliansi Amerika Serikat-Korea Selatan dan menyerukan agar Korea Selatan memperkuat kekuatan militernya sendiri.
“Ketika kita memperkuat kekuatan kita, nilai dan arti penting kita sebagai sekutu akan semakin besar,” katanya.
“Kemenangan” bagi Kim Jong Un?
Di Washington, politikus dari kedua partai menentang perintah Trump dengan alasan keputusan itu melemahkan aliansi dengan Korea Selatan dan menguntungkan lawan-lawan Amerika Serikat.
Senator Jack Reed, anggota Partai Demokrat paling senior di Komite Angkatan Bersenjata Senat, menyebut langkah tersebut sebagai “keputusan bodoh dan serampangan yang dibuat Presiden Trump dan pemerintahannya yang kacau”.
“Kim Jong Un telah meraih kemenangan propaganda dan Korea Selatan, salah satu sekutu terkuat kita, dihukum tanpa alasan selain ego pribadi Trump,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Senator Partai Republik Thom Tillis menekankan panjangnya aliansi militer Korea Selatan dengan Amerika Serikat. Dia berpendapat bahwa pengurangan skala latihan ikut menguntungkan Rusia, karena memungkinkan Korea Utara mengirim lebih banyak pasukan bayaran untuk bertempur di Ukraina.
Kim Sang-woo, mantan politikus dari Kongres untuk Politik Baru Korea Selatan yang berhaluan kiri dan kini menjadi anggota dewan Kim Dae-jung Peace Foundation, mengatakan mayoritas warga Korea Selatan “sangat khawatir” terhadap memburuknya aliansi serta implikasi dari keberpihakan Trump kepada Pyongyang ketimbang Seoul.
“Orang-orang cemas,” katanya kepada DW. “Trump mengancam akan menarik pasukan Amerika Serikat selama masa jabatan pertamanya kecuali Korea Selatan membayar lebih banyak untuk mempertahankan mereka di sini, ia mengenakan tarif besar terhadap ekspor kami ke Amerika Serikat, dan sekarang ia mendekati Korea Utara dengan cara yang menunjukkan keinginannya membangun hubungan baru dan menandatangani perjanjian damai yang mengakhiri Perang Korea.”
Peluang kecil perubahan di Pyongyang
Namun, Kim menambahkan bahwa Trump masih memiliki sekutu di Presiden Korea Selatan Lee.
“Saya tidak berpikir pemerintahan Lee sama sekali khawatir atau kecewa dengan rencana ini,” katanya. “Kebijakan mereka selalu berusaha memulihkan hubungan persahabatan dengan Korea Utara, meskipun Korea Utara tidak menunjukkan niat untuk membalasnya.”
Pada Senin, kantor Lee mengeluarkan pernyataan yang menyatakan optimisme terhadap “dialog yang bermakna” antara Trump dan Kim Jong Un, yang dapat mendorong perdamaian di kawasan.
Namun, pengamat Korea Selatan Kim mengatakan tidak ada tanda-tanda bahwa Pyongyang akan mengubah sikap agresifnya terhadap Amerika Serikat ataupun Korea Selatan.
“Terakhir kali Kim Jong Un berunding dengan Trump, di Vietnam pada 2019, Korea Utara berada dalam posisi lemah,” katanya.
“Hari ini, Kim telah membangun aliansi kokoh dengan Rusia yang memberinya teknologi militer, pasokan energi, dan bantuan ekonomi. Cina juga tengah menjangkau Korea Utara karena tidak ingin sepenuhnya kehilangan peran,” ujarnya.
“Saat ini, Kim berada dalam posisi yang sangat nyaman dan Anda bisa berpendapat bahwa dia tidak lagi membutuhkan Amerika Serikat,” katanya. “Namun, bagi sebagian besar masyarakat Korea Selatan, persoalannya jauh lebih mendasar: kami memang tidak mempercayai Korea Utara.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
(ita/ita/detik)















