Jakarta, bisnissumsel.com –
Tren pemeriksaan DNA (Deoxyribonucleic Acid) kini dimanfaatkan untuk membantu menentukan pola makan yang lebih personal. Namun, tak sedikit yang masih ragu dan mempertanyakan apakah pemeriksaan genetik tersebut benar-benar akurat dalam membantu menyusun program diet.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengatakan tes DNA untuk menentukan pola makan dikenal sebagai nutrigenomik, yakni pemeriksaan yang melihat faktor genetik seseorang untuk memberikan gambaran mengenai respons tubuh terhadap makanan dan zat gizi tertentu.
“Oh iya benar, jadi itu namanya nutrigenomik. Memang dia ceknya berdasarkan DNA kita, bisa dari air liur atau darah. Nah itu benar-benar sesuai,” ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (24/9/2026).
Menurut dr Yaze, hasil pemeriksaan nutrigenomik dapat memberikan gambaran yang lebih personal mengenai respons tubuh seseorang terhadap berbagai jenis makanan maupun zat gizi tertentu.
“Isinya kayak misalnya mulai dari dia ngebaca kamu alergi apa. Jadi nanti kalau misalnya bikin meal plan itu,” kata dr Yaze.
“Misalnya kamu alergi telur atau kamu enggak bisa minum kopi. Nanti di meal plan-nya bakal saya eliminasi si telurnya, bakal dieliminasi juga makanan-makanan yang punya kandungan kafein,” paparnya.
Bisa Cegah Risiko Penyakit Sejak Dini
Selain mendeteksi alergi dan intoleransi makanan, keunggulan utama tes nutrigenomik terletak pada kemampuannya memetakan predisposisi atau risiko penyakit kronis di masa depan. Informasi genetik ini memungkinkan dokter gizi menyusun perancangan menu preventif sebelum masalah kesehatan berkembang.
“Misalnya kamu itu ke depannya akan bisa terkena penyakit jantung. Nah bukan berarti langsung terdiagnosa penyakit jantung, tapi dengan begitu artinya kita bisa mencegah untuk terjadi penyakit jantung,” jelas dr Yaze.
“Misalnya penyebabnya akibat natrium yang terlalu tinggi, artinya kan berarti setiap meal plan yang dibuat nanti natriumnya itu akan dihitung per harinya,” lanjutnya.
(sao/suc/detik)

















