Washington DC, bisnissumsel.com –
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengindikasikan tindakan militer terhadap Iran tetap terbuka, sembari menyebut Teheran sedang mengalami “kegagalan total”.
Ketika ditanya mengapa AS tidak mengambil tindakan militer terhadap Iran sekarang, seperti dilansir Anadolu Agency, Sabtu (10/10/2026), Trump menjawab: “Kami mungkin saja melakukannya. Kita lihat saja nanti.”
“Namun menurut saya, mereka sedang mengalami kegagalan total. Negara mereka sedang mengalami kegagalan parah. Militer mereka telah dikalahkan. Mereka tidak memiliki angkatan laut. Mereka tidak memiliki angkatan udara. Inflasi mereka mencapai 300 persen, dan kondisi Iran sangat buruk,” sebut Trump.
Dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal langkah apa yang mungkin diambil pemerintahannya atau kerangka waktu untuk kemungkinan tindakan militer tersebut.
Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa dirinya tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela AS digelar pada November mendatang. Trump menyebut bahwa AS saat ini sedang melakukan “diskusi produktif” dengan Iran.
“Kami sedang melakukan diskusi produktif dengan Republik Islam Iran,” kata Trump dalam pernyataan via akun media sosial Truth Social miliknya.
“Saya ingin memperjelas kepada semua pihak bahwa, meskipun kondisi Iran sangat buruk, baik secara ekonomi maupun militer, dan meskipun blokade akan tetap diberlakukan sepenuhnya… kita tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilu sela yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat pada 3 November,” tegasnya.
AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari lalu, yang memicu pembalasan Teheran berupa serangan rudal dan drone, serta penutupan efektif Selat Hormuz, jalur perairan yang strategis bagi pasokan minyak dan gas global.
Perang telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan, yang menyebabkan lonjakan harga bahan bakar karena lalu lintas minyak komersial melintasi jalur perairan vital itu praktis terhenti.
Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman (MoU), dengan mediasi Pakistan dan Qatar, untuk menghentikan pertempuran dan membuka jalan bagi negosiasi demi mengakhiri perang secara permanen.
Namun penerapan MoU itu mengalami kebuntuan di tengah berbagai perbedaan pendapat, termasuk soal masalah keamanan dan kendali atas Selat Hormuz.
(nvc/idh/detik)
















