Langkah BPOM Percepat Hilirisasi Produk Kesehatan dan Pangan Lewat Program ABG

Foto: Dokumentasi BPOM RI

Jakarta, bisnissumsel.com –

Salah satu tantangan terbesar inovasi nasional hingga kini adalah kesenjangan antara hasil penelitian akademis dengan kesiapan industri, pembiayaan, serta pemenuhan regulasi. Akibatnya, banyak hasil riset perguruan tinggi yang berhenti sebagai publikasi ilmiah tanpa sempat diproduksi secara masif untuk masyarakat.

Guna mengatasi hambatan tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mentransformasi perannya tidak lagi sekadar lembaga pengawas di tahap akhir (downstream regulator), melainkan sebagai regulatory enabler yang mendampingi peneliti sejak fase awal perencanaan riset.

Melalui penguatan kolaborasi Academia, Business, and Government (ABG) selama dua tahun terakhir, BPOM mencatat telah memfasilitasi penerbitan 25 Nomor Izin Edar (NIE) bagi produk kesehatan dan pangan hasil hilirisasi inovasi riset kampus.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar menjelaskan bahwa pendampingan ilmiah dilakukan mulai dari pengembangan produk, pengujian laboratorium, kesiapan fasilitas produksi, hingga registrasi agar produk aman dan berdaya saing.

“Perguruan tinggi memiliki kekuatan riset dan inovasi, dunia usaha mempunyai kemampuan investasi serta produksi, sementara pemerintah hadir memastikan kebijakan dan regulasi mampu mendukung percepatan hilirisasi tanpa mengabaikan keamanan, khasiat, manfaat, dan mutu produk,” ujar Taruna dalam pembukaan Gebyar ABG 2026 di ICE BSD, Tangerang.

Strategi Akselerasi Riset Obat dan Pangan Berbasis Bahan Alam

Sebagai bentuk nyata perbaikan ekosistem inovasi, BPOM meluncurkan program BRIDGE (Bersinergi Dalam Riset Inovatif, Berdaya Saing Global, dan Ekspansi Pasar). Program ini difokuskan untuk mengintegrasikan potensi kekayaan hayati Indonesia dengan kebutuhan industri.

Melalui skema ini, sebanyak 24 penelitian dari 18 lembaga riset tengah didorong menuju proses produksi massal. Produk yang dikembangkan mencakup:

Obat Bahan Alam (OBA) dan obat kuasi

Suplemen kesehatan dan pangan olahan

Produk kosmetik berbasis bahan lokal

Selain itu, BPOM telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 190 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Kemitraan ini bertujuan mempercepat transfer teknologi, meningkatkan literasi keamanan pangan dan obat, serta mempertemukan inovator kampus langsung dengan mitra industri dan investor.

Mendukung Kemandirian Industri dan Target Pertumbuhan Ekonomi

Langkah pendampingan regulasi dan percepatan izin edar ini diintegrasikan dengan upaya penguatan UMKM serta kemandirian sektor kesehatan nasional. Di samping memfasilitasi inovasi berskala besar, BPOM melatih pelaku usaha lokal melalui program pendampingan standar mutu untuk memperluas akses pasar ekspor.

Taruna menambahkan bahwa penyederhanaan layanan regulasi tetap diimbangi dengan pengawasan berbasis risiko yang ketat, termasuk pemantauan digital dan ketertelusuran produk di pasaran.

“BPOM tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan agar inovasi yang lahir dari perguruan tinggi mampu berkembang menjadi kekuatan industri nasional, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

(kna/kna/detik)