Jakarta, bisnissumsel.com –
Di tengah bentang gurun New Mexico, Amerika Serikat, terdapat sebuah kawasan yang memiliki sejarah unik dalam perkembangan Islam di negeri tersebut. Namanya Dar al Islam, sebuah komunitas dan pusat pendidikan Islam yang berada di Abiquiu, New Mexico.
Dilansir dari laman Dar Al Islam, desa unik ini awalnya dibangun dengan gagasan membentuk komunitas muslim Amerika yang mandiri dan memiliki kehidupan bersama berlandaskan nilai-nilai Islam.
Meski kerap disebut sebagai “desa muslim” atau “desa Islam” di Amerika, Dar al Islam perlu dipahami bukan sebagai desa administratif yang seluruh penduduknya saat ini tercatat sebagai muslim. Lebih tepatnya, kawasan ini merupakan komunitas Islam yang sejak awal dirancang sebagai permukiman muslim sekaligus pusat pendidikan.
Bahkan, organisasi Dar al Islam kini menyebut dirinya sebagai institusi Islam berbasis alam yang terbuka bagi komunitas muslim maupun nonmuslim.
Menariknya, komunitas ini lahir dari gagasan seorang mualaf Amerika dan kemudian diwujudkan melalui arsitektur khas karya Hassan Fathy, arsitek ternama asal Mesir.
Berawal dari Gagasan Seorang Mualaf Amerika
Dar al Islam didirikan pada 1979 dengan visi membangun komunitas muslim yang dapat menjalankan kehidupan bersama berdasarkan nilai-nilai Islam.
Nuruddin Durkee, seorang warga Amerika yang kemudian menjadi muslim, merupakan salah satu tokoh utama di balik gagasan tersebut. Ia sebelumnya memiliki pengalaman membangun komunitas dan kemudian mempelajari Islam lebih jauh, termasuk di Makkah.
Dalam perjalanannya di Makkah, Durkee bertemu dengan Sahl Kabbani, seorang pengusaha asal Saudi yang pernah menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Keduanya kemudian memiliki gagasan untuk membangun sebuah komunitas Islam di Amerika. Gagasan tersebut berkembang menjadi proyek Dar al Islam.
Abdullah Nasseef, yang saat itu dikenal sebagai tokoh akademik dan kemudian menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, juga ikut terlibat dalam pendirian proyek tersebut. Dukungan finansial dari sejumlah pihak di Arab Saudi turut membantu pembelian lahan dan pembangunan fasilitas komunitas.
Dengan demikian, Dar al Islam bukanlah kawasan yang muncul secara spontan. Ia dirancang sejak awal sebagai sebuah komunitas yang diharapkan dapat menjadi tempat tinggal, belajar, beribadah, dan menjalani kehidupan sehari-hari dalam lingkungan muslim.
Bukan Sekadar Masjid di Tengah Gurun
Dar al Islam berada di kawasan Abiquiu, New Mexico, tepatnya di lembah Sungai Chama. Lokasinya berada di dataran tinggi berbukit yang berhadapan dengan desa bersejarah Abiquiu.
Menurut pengelola Dar al Islam, kampus tersebut kini berpusat pada masjid dan kompleks pendidikan. Bangunan aslinya terbuat dari adobe, yakni batu bata berbahan tanah liat.
Kompleks tersebut pada awalnya dirancang dengan cakupan yang jauh lebih besar. Selain masjid dan sekolah, gagasan awalnya mencakup rumah, lahan pertanian, serta fasilitas yang dapat menopang kehidupan komunitas.
Dalam kajian arsitektur, Dar al Islam bahkan disebut sebagai proyek komunitas Islam terencana pertama di Amerika Serikat. Organisasi tersebut didirikan pada akhir 1970-an dan bangunan utama mulai diwujudkan pada awal 1980-an.
Dibangun dengan Arsitektur Tanah Liat Khas Mesir
Salah satu hal yang membuat Dar al Islam menarik adalah arsitekturnya.
Masjid dan madrasah di kawasan tersebut dirancang oleh Hassan Fathy, arsitek Mesir yang dikenal karena mengembangkan arsitektur berbasis material lokal dan teknik bangunan tradisional.
Fathy menggunakan pendekatan yang sangat berbeda dari bangunan modern yang umumnya menggunakan beton dan baja. Di Dar al Islam, ia mengembangkan teknik konstruksi adobe yang memiliki akar kuat dalam tradisi arsitektur Afrika Utara dan kawasan Timur Tengah.
Menurut Society of Architectural Historians, masjid dan madrasah Dar al Islam merupakan satu-satunya karya Hassan Fathy yang benar-benar dibangun di belahan bumi Barat.
Fathy datang langsung ke Abiquiu pada 1980 bersama dua ahli konstruksi dari Nubia. Mereka membantu mengajarkan teknik pembuatan batu bata tanah dan konstruksi kubah kepada para pekerja lokal serta orang-orang yang datang untuk membantu pembangunan.
Hasilnya adalah bangunan yang tampak seperti berada di Afrika Utara atau Timur Tengah, tetapi sesungguhnya berdiri di tengah lanskap gurun New Mexico.
Society of Architectural Historians mencatat organisasi tersebut pernah memiliki area lapang seluas sekitar 8.500 acre atau sekitar 3.400 hektare di sisi utara dan selatan Sungai Chama. Sebagian besar lahan tersebut kemudian dijual pada 2005-2006 sehingga luas properti yang tersisa kini sekitar 1.350 acre.
Sumber lain yang terbit pada 1988 menggambarkan Dar al Islam sebagai komunitas yang saat itu berkembang di kawasan yang jauh lebih luas. Lahan tersebut tidak hanya digunakan untuk masjid dan sekolah, tetapi juga mencakup rumah, lahan pertanian, serta fasilitas pendukung kehidupan masyarakat.
Masyarakat yang Tinggal di Dar al Islam
Pada masa perkembangannya, Dar al Islam dihuni oleh muslim dengan latar belakang yang beragam.
Ada mualaf Amerika, imigran muslim, keluarga, serta anak-anak yang tumbuh di antara tradisi Islam dan kehidupan Amerika.
Karena itu, komunitas tersebut sejak awal memiliki karakter yang unik. Islam yang tumbuh di sana bukan hanya dibawa oleh imigran dari negara-negara muslim, tetapi juga berkembang melalui orang-orang Amerika yang memilih memeluk Islam.
Namun, penting dicatat bahwa istilah “desa 100 persen muslim” tidak sebaiknya digunakan secara harfiah untuk menggambarkan kondisi Dar al Islam saat ini. Sumber resmi Dar al Islam tidak menyebut kawasan tersebut sebagai desa administratif dengan komposisi penduduk 100 persen muslim. Saat ini, Dar al Islam justru secara terbuka menyambut komunitas muslim maupun nonmuslim untuk mengikuti berbagai kegiatan.
(dvs/kri/detik)















