AS Akui Punya Senjata di Luar Angkasa, Teknologinya Masih Dirahasiakan

Penampakan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) di orbit Bumi. Foto: NASA

Jakarta, bisnissumsel.com –

Amerika Serikat untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui telah menempatkan senjata di orbit Bumi. Pengakuan tersebut disampaikan Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink baru-baru ini di acara Air, Space and Cyber Conference.

Namun, pemerintah AS belum mengungkap jenis senjata, kemampuan, maupun kapan tepatnya perangkat tersebut dikirim ke orbit. Meink mengatakan senjata itu diperlukan untuk melindungi pasukan AS dari ancaman musuh yang terus berkembang.

Pengumuman ini menarik perhatian karena selama ini negara-negara besar seperti AS, Rusia, dan China diketahui mengembangkan berbagai kemampuan untuk menghadapi ancaman terhadap satelit, tetapi rincian sistem yang benar-benar ditempatkan di orbit sering dirahasiakan.

Senjata seperti apa yang dimaksud? Belum ada jawaban resmi. Juru bicara US Space Force hanya menjelaskan bahwa kemampuan space control mencakup sarana kinetik maupun nonkinetik yang dapat digunakan untuk mengganggu, menurunkan kemampuan, atau bahkan menghancurkan aset lawan.

“Kemampuan ini dapat digunakan untuk tujuan ofensif dan defensif atas arahan komando kombatan,” kata juru bicara US Space Force, seperti dikutip dari BBC.

Bleddyn Bowen, pakar penggunaan militer luar angkasa dari Royal United Services Institute (RUSI), mengatakan informasi yang tersedia untuk publik masih sangat sedikit.

Ia memperkirakan salah satu kemungkinan adalah sistem peperangan elektronik atau pengacak sinyal radio yang dapat mengganggu komunikasi. Kemungkinan lain adalah kinetic kill vehicle, yakni kendaraan yang membawa proyektil untuk menabrak dan menghancurkan satelit lain. Namun, Bowen menilai senjata yang menghancurkan satelit secara fisik berpotensi menghasilkan banyak serpihan di orbit.

“Saya benar-benar hanya menebak-nebak, ada berbagai macam sistem senjata,” kata Bowen dalam wawancara dengan BBC, ketika membahas kemungkinan jenis senjata tersebut.

Satelit saat ini bukan sekadar alat untuk penelitian luar angkasa. Infrastruktur di orbit digunakan untuk komunikasi, navigasi, pengawasan, hingga berbagai kebutuhan militer. Karena itu, kemampuan untuk mengganggu atau menghancurkan satelit dapat memberikan dampak besar terhadap operasi di Bumi.

AS mengatakan langkah tersebut berkaitan dengan perkembangan kemampuan Rusia dan China yang dapat digunakan untuk menyerang atau mengganggu satelit. US Space Force sendiri dibentuk pada 2019 sebagai cabang baru militer AS untuk melindungi aset Amerika di luar angkasa.

Seiring perkembangan teknologi, konsep pertahanan ruang angkasa juga mencakup kemampuan untuk menghadapi atau mengganggu aset milik pihak lain. Di sisi lain, keberadaan senjata di orbit memiliki batasan hukum internasional.

Outer Space Treaty 1967 melarang penempatan senjata pemusnah massal di orbit Bumi. Namun, perjanjian tersebut tidak secara umum melarang seluruh jenis senjata konvensional di luar angkasa.

China merespons pengumuman AS dengan memperingatkan risiko perlombaan senjata di luar angkasa. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyerukan AS untuk berhenti memperluas kemampuan militernya dan mempersiapkan perang di luar angkasa.

Untuk saat ini, detail paling penting masih menjadi misteri, senjata apa yang sebenarnya berada di orbit tersebut? Pemerintah AS belum mengungkapnya. Yang telah dikonfirmasi hanyalah keberadaan kemampuan tersebut dan bahwa AS menganggapnya diperlukan untuk menghadapi ancaman terhadap aset serta pasukannya di ruang angkasa.

(rns/afr/detik)