PALEMBANG, bisnissumsel.com –
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) meluncurkan penerapan teknologi dry ice atau es kering sebagai salah satu upaya membantu mengurai kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumsel, khususnya Kota Palembang dan sekitarnya. Pada tahap awal, operasi ini direncanakan menggunakan sekitar 1,5 ton karbon dioksida padat yang disiapkan untuk mendukung uji coba teknologi tersebut.
Langkah ini merupakan tindak lanjut instruksi Presiden Republik Indonesia untuk mempercepat penanganan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, didampingi Gubernur Sumsel Dr. H. Herman Deru, menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan kepada awak media setelah meninjau persiapan operasi dry ice di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Rabu (14/10/2026).
Gubernur Herman Deru mengatakan, persiapan pelaksanaan uji coba terus dimatangkan, termasuk menyiapkan pesawat yang akan digunakan untuk mendukung operasi. Sebagian bahan dry ice telah tiba di Palembang, sementara sisanya masih dalam perjalanan dari Lampung.
“Rencananya besok siang dilakukan penebaran dry ice. Pesawatnya sudah siap, sebagian bahan sudah berada di sini dan sebagian lainnya masih dalam perjalanan dari Lampung,” ujar Herman Deru.
Teknologi ini akan diuji coba untuk membantu mengurangi konsentrasi asap di dekat permukaan melalui proses yang diharapkan dapat memengaruhi kondisi atmosfer. Dengan demikian, kualitas udara di kawasan perkotaan, khususnya Palembang, diharapkan membaik.
Pada tahap awal, operasi direncanakan menggunakan sekitar 1,5 ton dry ice atau karbon dioksida padat. Penebaran akan difokuskan di sekitar Kota Palembang dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan sebaran asap.
Herman Deru menjelaskan, uji coba ini menjadi langkah baru dalam penanganan kabut asap di Indonesia. Jika hasil evaluasi menunjukkan efektivitas, teknologi tersebut berpeluang dikembangkan ke daerah lain yang menghadapi persoalan serupa, termasuk Kalimantan Tengah.
“Ini uji coba di Indonesia dan baru di Sumatera Selatan. Insyaallah, kalau berhasil, akan kita kembangkan ke daerah-daerah lain yang menjadi sentra asap,” katanya.
Ia berharap penerapan teknologi ini dapat membantu memperbaiki kualitas udara sekaligus meningkatkan jarak pandang yang terganggu akibat kabut asap.
“Harapannya, dengan adanya penebaran ini, udara segar segera terasa dan jarak pandang semakin membaik,” ujarnya.
Herman Deru menambahkan, Sumsel ditunjuk sebagai wilayah percontohan atau pilot project penerapan teknologi dry ice. Program yang diusulkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut telah mendapat persetujuan Presiden RI dan akan dilaksanakan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Untuk pelaksanaan perdana ini, Herman Deru meminta agar operasi diprioritaskan di ibu kota Provinsi Sumsel, yakni Kota Palembang.
“Ini perdana di Indonesia, dan yang saya minta adalah Kota Palembang dulu,” tegasnya.
Terkait teknis pelaksanaan dan penentuan titik koordinat penebaran, Pemprov Sumsel terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel. Koordinasi ini dilakukan agar pelaksanaan operasi dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Meski demikian, Herman Deru menegaskan bahwa penggunaan teknologi dry ice bukan pengganti upaya penanganan karhutla yang selama ini dilakukan pemerintah. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan tetap dilaksanakan bersamaan dengan upaya pemadaman dan penanganan kebakaran di lapangan.
Seluruh langkah tersebut saling melengkapi, mulai dari pemadaman sumber api, pengendalian sebaran asap, hingga upaya memperbaiki kualitas udara yang terdampak.
Pemprov Sumsel terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan seluruh unsur terkait agar penanganan karhutla berjalan lebih efektif. Melalui uji coba teknologi dry ice ini, pemerintah berharap tersedia dukungan teknologi tambahan untuk membantu mengatasi kabut asap, tanpa mengesampingkan pemadaman kebakaran dan pencegahan kebakaran berulang sebagai prioritas utama.(Adi/bs)
















