Jakarta, bisnissumsel.com-
Viral video influencer mengonsumsi 11 suplemen sekaligus dalam sekali minum, memicu banyak perdebatan di media sosial. Tidak sedikit warganet kemudian bertanya-tanya, apakah mengonsumsi banyak suplemen dalam satu waktu aman bagi kesehatan?
Menanggapi hal tersebut, neurolog Prof Dr Rizaldy Taslim Pinzon menekankan penggunaan suplemen pada dasarnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah suplemen yang diminum, tetapi juga kandungan, dosis, serta kemungkinan adanya tumpang tindih zat gizi dari beberapa produk berbeda.
Menurut Prof Rizaldy, salah satu contoh yang sering menjadi perhatian dalam aspek keamanan suplemen adalah vitamin B6. Nutrisi ini disebutnya berperan penting dalam fungsi saraf, metabolisme tubuh, dan sistem kekebalan, tetapi seperti zat gizi lainnya, penggunaannya tetap perlu memperhatikan dosis yang tepat.
“Para neurolog mencatat, meskipun kasus neuropati perifer akibat vitamin B6 tergolong jarang, kesadaran masyarakat terhadap dosis penggunaan semakin meningkat. Hal ini terutama terjadi pada individu yang mengonsumsi lebih dari satu jenis suplemen secara bersamaan,” jelasnya kepada detikcom, Minggu (31/5/2026).
Neuropati perifer merupakan gangguan pada saraf tepi yang dapat menimbulkan gejala seperti kesemutan, baal, atau mati rasa. Meski demikian, Prof Rizaldy menegaskan kondisi tersebut relatif jarang terjadi dan umumnya dapat membaik apabila penyebabnya segera dikenali dan asupan disesuaikan.
Vitamin B6 sendiri sebenarnya dibutuhkan tubuh setiap hari. Kebutuhan orang dewasa berkisar 1,3-2 miligram per hari dan umumnya dapat dipenuhi dari pola makan seimbang, seperti konsumsi ikan, daging unggas, telur, kentang, pisang, serta kacang-kacangan.
Pada kondisi tertentu, suplemen tetap dapat diperlukan. Misalnya pada ibu hamil dan menyusui, lansia, pengidap penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit ginjal, pengguna obat tertentu dalam jangka panjang, maupun individu yang mengalami gangguan penyerapan nutrisi.
“Pendekatan yang tepat bukan menghindari suplemen, melainkan memastikan penggunaannya berbasis ilmu pengetahuan dan sesuai kebutuhan individu,” ujar Prof Rizaldy.
Dihubungi terpisah, Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Prof Zullies Ikawati mengatakan tidak ada aturan baku yang menyebut seseorang hanya boleh mengonsumsi sejumlah suplemen tertentu dalam sehari. Hal yang lebih penting adalah memahami kebutuhan tubuh dan kandungan dari masing-masing produk yang dikonsumsi.
“Tidak bisa juga harus dibatas sekian suplemen, tergantung jenis suplemennya dan kebutuhan tubuh,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa suplemen pada dasarnya berfungsi sebagai pelengkap atau tambahan nutrisi, bukan pengganti makanan bergizi. Karena itu, penggunaannya idealnya dilakukan ketika memang ada kebutuhan tertentu atau kekurangan zat gizi yang tidak dapat dipenuhi dari makanan sehari-hari.
“Namanya suplemen itu kan artinya tambahan, jadi digunakan jika memang tubuh kekurangan,” tuturnya.
Konsumsi beberapa suplemen sekaligus juga perlu memperhatikan kemungkinan kandungan yang tumpang tindih.
(naf/kna/detik)
















