Jakarta, bisnissumsel.com –
Banyak orang menganggap diabetes hanya berkaitan dengan kadar gula darah. Padahal, jika tidak dikelola dengan baik, penyakit ini dapat merusak berbagai organ tubuh, termasuk otak.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang memasok darah ke otak, sehingga meningkatkan risiko stroke serta gangguan fungsi kognitif, seperti daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir.
Diabetes Meningkatkan Risiko Stroke?
Salah satu komplikasi serius diabetes adalah stroke. Orang dengan diabetes memiliki risiko stroke sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengidap penyakit tersebut.
Hal ini terjadi karena kadar gula darah yang terus-menerus tinggi dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah. Seiring waktu, pembuluh darah menjadi lebih sempit dan kaku sehingga lebih mudah terbentuk gumpalan darah. Apabila gumpalan tersebut menyumbat aliran darah ke otak, kondisi itu dapat menyebabkan stroke iskemik.
“Dengan merusak lapisan dalam pembuluh darah, glukosa membuat pembuluh darah lebih rentan terhadap penyempitan, pengerasan, dan pada akhirnya pembentukan bekuan darah,” kata Direktur dan Konsultan Senior Neurologi KIMS Hospital Electronic City, Bengaluru, Dr Sujit Kumar.
Otak membutuhkan pasokan darah yang kaya oksigen secara terus-menerus agar dapat berfungsi dengan baik. Ketika aliran darah terhenti, sel-sel otak mulai mengalami kerusakan dalam hitungan menit. Karena itu, stroke merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera.
Risiko stroke juga semakin tinggi karena diabetes sering kali disertai kondisi lain, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, obesitas, atau penyakit jantung. Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke, termasuk stroke berulang.
Gula Darah Tinggi Bisa Memengaruhi Daya Ingat
Selain meningkatkan risiko stroke, diabetes juga dapat memengaruhi fungsi otak secara bertahap. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di otak serta memicu peradangan kronis dan stres oksidatif.
Kondisi ini dapat memengaruhi cara kerja otak. Akibatnya, sebagian orang menjadi lebih sulit mengingat sesuatu, berkonsentrasi, mempelajari informasi baru, atau mengambil keputusan.
“Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menderita diabetes dalam jangka waktu lama lebih rentan mengalami demensia vaskular dan penyakit Alzheimer. Namun, hubungan yang pasti antara diabetes dan Alzheimer masih belum terbukti,” kata Dr Kumar.
Gula Darah Terlalu Rendah Juga Berbahaya
Bukan hanya gula darah tinggi yang perlu diwaspadai. Gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia juga dapat mengganggu fungsi otak.
Karena otak bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama, kadar gula darah yang turun drastis dapat menyebabkan kebingungan, pusing, kejang, bahkan kehilangan kesadaran.
Jika terjadi berulang dan tidak segera ditangani, kondisi ini juga berpotensi menyebabkan gangguan kognitif, terutama pada lansia.
Cara Melindungi Otak pada Pengidap Diabetes
Mengendalikan diabetes secara konsisten menjadi langkah utama untuk menurunkan risiko stroke dan menjaga kesehatan otak. Mulai dari minum obat sesuai resep dokter, memantau kadar gula darah, hingga mengikuti rencana perawatan yang direkomendasikan.
“Pengelolaan faktor risiko kardiovaskular lainnya juga sangat penting. Tekanan darah dan kadar kolesterol harus dijaga dalam kisaran yang direkomendasikan,” kata Dr Kumar.
Selain itu, menghindari rokok, menjaga berat badan tetap ideal, rutin berolahraga, dan memastikan waktu tidur yang cukup juga dapat membantu mengurangi risiko stroke secara signifikan.
(elk/kna/detik)















