Satelit Radar China Jepret Tajam Lokasi Gletser Nepal Runtuh

Satelit Radar China Jepret Tajam Lokasi Gletser Nepal Runtuh Foto: via SCMP

Jakarta, bisnissumsel.com –

Satelit radar China menangkap citra tajam lokasi runtuhnya gletser di Nepal yang memicu bencana dahsyat di kawasan perbatasan Nepal-China. Hanya beberapa jam setelah bencana terjadi, sebuah perusahaan satelit yang berbasis di Beijing langsung mengalihkan enam satelitnya untuk mengamati lokasi.

Citra radar beresolusi tinggi yang dihasilkan memperlihatkan area keruntuhan besar di kawasan Himalaya yang terpencil dan sulit dijangkau. Teknologi radar memungkinkan satelit memetakan perubahan permukaan dengan presisi tinggi meski lokasi tertutup awan atau kabut.

Dilansir South China Morning Post, citra yang diambil satelit radar memperlihatkan area keruntuhan besar di dekat jalur pegunungan terpencil. Sejumlah gambar dari satelit Dongpo pada 27 Agustus juga menunjukkan area yang diduga menjadi jalur longsoran, titik keruntuhan hingga kondisi Gyirong Port di Tibet setelah bencana.

Bisa ‘Melihat’ Tembus Awan

Penggunaan radar menjadi penting karena kondisi pegunungan Himalaya membuat pengamatan menggunakan kamera satelit biasa tidak selalu mudah.

Berbeda dengan sensor optik yang bergantung pada cahaya dan bisa terhalang awan, sinyal radar dapat menembus awan dan kabut. Teknologi ini memungkinkan perubahan permukaan tanah dipetakan dengan presisi tinggi meskipun cuaca sedang buruk.

Kemampuan tersebut sangat berguna dalam penanganan bencana. Tim penyelamat dapat memperoleh gambaran mengenai perubahan medan, jalur material longsoran hingga kerusakan infrastruktur tanpa harus terlebih dahulu mencapai lokasi yang berbahaya.

Pemerintah China juga mengerahkan sumber daya satelit dan drone untuk mendukung operasi penyelamatan. China National Space Administration (CNSA) mengatakan hingga Kamis sore telah menyerahkan lima citra sebelum bencana dan 10 citra setelah bencana kepada lembaga terkait untuk membantu penilaian dampak dan mitigasi.

Bentang Alam Berubah Drastis

Bencana bermula ketika bagian batuan dan gletser di kawasan Nepal runtuh pada Rabu (26/8). Material es, batu dan puing dalam jumlah sangat besar meluncur ke lembah, kemudian memicu banjir bandang yang menghantam kawasan di perbatasan Nepal dan Tibet.

Gambar radar yang ditangkap oleh satelit Dongpo-15 pada 27 Agustus, menunjukkan (dari atas) tebing longsor lumpur yang diduga, area runtuhan yang diduga dan Pelabuhan Gyirong, Tibet. Foto: via SCMP

Gyirong Port di Shigatse, Tibet, termasuk wilayah yang mengalami kerusakan parah. Citra tiga dimensi yang kemudian dirilis China menunjukkan bangunan, jalan dan jembatan yang terlihat sebelum bencana sudah tidak dapat dikenali dalam gambar setelah kejadian.

Penggunaan enam satelit dalam waktu singkat sekaligus memperlihatkan perkembangan kemampuan observasi Bumi China. Teknologi yang sebelumnya banyak diasosiasikan dengan pemerintah dan militer kini semakin tersedia bagi perusahaan antariksa komersial, sehingga satelit dapat dikerahkan dengan cepat untuk memantau bencana dan perubahan permukaan Bumi.

(afr/detik)