Sumsel Menuju Health Tourism, Herman Deru Minta Tenaga Medis Perkuat Layanan Kardiovaskular

13

PALEMBANG, bisnissumsel.com –

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H. Herman Deru menegaskan keseriusan pemerintah daerah dalam mengembangkan Sumsel sebagai pusat wisata kesehatan (health tourism). Hal itu ia sampaikan saat membuka Kongres Nasional IKKI, National Brain and Heart Symposium, dan Palembang Heart Failure Talks III di Hotel Aryaduta Palembang, Sabtu (29/11/2025).

Dalam pidatonya, Herman Deru menegaskan bahwa Sumsel memiliki potensi besar untuk menjadi tujuan layanan medis, khususnya di bidang kardiovaskular. Ia mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk membangun kepercayaan masyarakat sehingga tidak perlu berobat ke luar negeri.

Menurutnya, peningkatan fasilitas kesehatan telah dilakukan secara bertahap dan tenaga medis di Sumsel terbukti memiliki kompetensi tinggi. Ia optimistis bahwa gagasan health tourism dapat mulai dicanangkan pada awal tahun 2026.

Selain itu, Gubernur juga menyinggung mengenai keterkaitan antara pembangunan pangan dan kesehatan. Hal ini ia sampaikan setelah diputarnya video tentang Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang selama ini menjadi salah satu program prioritas Pemprov Sumsel.

Ia menekankan bahwa teknologi kedokteran tidak akan memberi manfaat maksimal tanpa ketahanan pangan yang kuat. Karena itu, Gubernur menilai pembangunan pangan dan kesehatan harus saling menopang dan dikelola dalam satu kerangka kolaboratif.

Dalam kesempatan tersebut, Herman Deru mengapresiasi capaian Sumsel yang baru saja memperoleh penghargaan nasional sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terendah kedua di Indonesia. Menurutnya, capaian itu merupakan hasil kerja keras lintas sektor, terutama tenaga kesehatan di lapangan.

Ia menilai capaian penurunan stunting tersebut menjadi modal penting bagi Sumsel menyongsong bonus demografi. Gubernur menegaskan bahwa peningkatan kualitas generasi muda adalah kunci keberhasilan pembangunan jangka panjang.

Gubernur juga memberikan perhatian khusus terhadap tren meningkatnya kasus penyakit kardiovaskular pada usia muda. Menurutnya, temuan seperti hipertensi pada usia 30-an harus menjadi alarm bagi seluruh pihak terkait.

Ia berharap kegiatan simposium dapat menghasilkan rekomendasi nyata untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan penyakit kardiovaskular. Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan masukan konkret dari para tenaga medis dan akademisi.

Sementara itu, Ketua IKKI Pusat dr. Didi Kurniadi memberikan apresiasi kepada Kota Palembang sebagai tuan rumah. Ia menegaskan bahwa penyakit kardiovaskular membutuhkan pendekatan terintegrasi antara perawatan otak dan jantung.

Didi menjelaskan bahwa symposium ini menjadi wadah strategis bagi para profesional kesehatan untuk berbagi ilmu dan memperkuat jejaring. Kolaborasi, katanya, adalah kunci untuk meningkatkan standar layanan kesehatan nasional.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari dokter, akademisi, dan praktisi medis. Berbagai diskusi ilmiah dan workshop digelar untuk memperkaya wawasan peserta terkait penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah.(Din/bs)