Jakarta, bisnissumsel.com –
Ultra processed food (UPF) sering kali dikaitkan dengan dampak buruk terhadap kesehatan, seperti meningkatkan risiko diabetes dan hipertensi. Makanan ini juga dikaitkan dengan kerusakan fungsi otak.
Dikutip dari laman CNN, sebuah studi yang dipublikasikan pada April 2026 dalam jurnal Alzheimer’s Association mengungkapkan, peningkatan konsumsi UPF harian sebesar 10 persen, atau setara dengan sekantong kecil keripik kentang, dapat meningkatkan risiko demensia, bahkan jika seseorang biasanya mengonsumsi makanan sehat.
“Studi kami menunjukkan bahwa konsumsi makanan UPF dikaitkan dengan penurunan perhatian dan peningkatan risiko demensia pada orang dewasa paruh baya dan lanjut usia,” kata penulis utama studi, Barbara Cardoso.
Meski demikian, penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi UPF dan risiko demensia, bukan membuktikan bahwa UPF secara langsung menjadi penyebabnya.
Menariknya, hubungan tersebut tetap ditemukan meskipun para peserta menjalani pola makan Mediterania yang dikenal menyehatkan. Hal ini menunjukkan bahwa risiko kemungkinan lebih dipengaruhi oleh tingkat pengolahan makanan, bukan sekadar jenis makanan yang dikonsumsi.
Ahli saraf dari Harvard Medical School, Dr W Taylor Kimberly, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai temuan tersebut semakin memperkuat bukti bahwa UPF berpotensi memberikan dampak buruk terhadap kesehatan otak.
Kimberly merupakan penulis utama studi serupa yang menemukan bahwa peningkatan asupan makanan UPF sebesar 10 persen meningkatkan risiko gangguan kognitif sebesar 16 persen, bahkan jika orang tersebut sebagian besar mengonsumsi makanan nabati.
“Secara bersama-sama, studi-studi ini menyoroti bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi secara konsisten dikaitkan dengan kinerja kognitif yang lebih buruk,” kata Kimberly dalam sebuah email.
Kendati demikian, risiko tersebut dapat ditekan jika seseorang secara konsisten mengurangi konsumsi makanan ultra proses. Penelitian yang dipimpin Kimberly menunjukkan bahwa mengganti UPF dengan makanan utuh atau makanan yang minim proses selama lima hingga enam tahun berkaitan dengan penurunan risiko penurunan fungsi kognitif sebesar 12 persen.
UPF mengandung sedikit atau bahkan tidak mengandung makanan utuh sama sekali. Sebaliknya, biji-bijian dan bahan pangan utuh dipecah menjadi molekul-molekul yang kemudian, dengan bantuan pewarna buatan, perasa, dan pengemulsi, dipanaskan, ditumbuk, dibentuk, atau diekstrusi.
Menurut para ahli, makanan yang sudah ‘dicerna” sebelumnya ini sering kali kaya akan gula, garam, dan lemak, tetapi mungkin kekurangan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh dan otak agar tetap sehat.
(elk/suc/detik)















