Jakarta, bisnissumsel.com –
Aksi dua pesawat penumpang yang terbang sangat rendah di atas sebuah stadion di Afrika Selatan memicu kehebohan di media sosial. Sejumlah warganet bahkan menyebut manuver tersebut terlihat seperti aksi yang nyaris berujung tabrakan.
Dikutip dari flightradar24, Senin (31/8/2026), dua pesawat itu milik Airlink. Keduanya melakukan aksi flypast dengan terbang rendah di atas DHL Stadium, Cape Town, Afrika Selatan, menjelang pertandingan rugby antara Afrika Selatan dan Selandia Baru pada Sabtu (29/8).
Aksi tersebut menjadi sorotan karena posisi pesawat terlihat sangat dekat dengan stadion. Penerbangan itu dilakukan sesaat sebelum dimulainya laga kedua dalam rangkaian pertandingan yang dikenal sebagai Rugby’s Greatest Rivalry. Kedua pesawat terbang secara beriringan dalam formasi di atas stadion yang dipenuhi penonton.
Pesawat yang berada di posisi depan melintas kurang dari 50 kaki atau sekitar 15 meter di atas titik tertinggi DHL Stadium.
Jika dihitung lebih detail, jarak sebenarnya antara pesawat dan atap stadion diperkirakan hanya sekitar 41 hingga 46 kaki, atau sekitar 12,5 sampai 14 meter.
Perhitungan tersebut menggunakan data ADS-B yang merekam ketinggian pesawat berdasarkan tekanan udara standar. Untuk mengetahui jarak pesawat terhadap permukaan bangunan secara lebih akurat, data perlu disesuaikan dengan tekanan udara setempat, ketinggian lokasi stadion, serta tinggi bangunan.
Data menunjukkan ketinggian ADS-B terendah yang tercatat adalah 50 kaki. Setelah dikoreksi menggunakan tekanan udara setempat sebesar 1.019 hPa, ketinggian pesawat diperkirakan berada di kisaran 205 hingga 210 kaki di atas permukaan laut.
Sementara itu, DHL Stadium berada hampir di permukaan laut dan memiliki ketinggian sekitar 164 kaki. Dari perhitungan tersebut, pesawat diperkirakan memiliki jarak bebas sekitar 41 hingga 46 kaki dari bagian atas stadion.
Aksi tersebut melibatkan dua pesawat Airlink. Pesawat pertama adalah Embraer E195 dengan registrasi ZS-YDE, sedangkan pesawat kedua merupakan Embraer E190 dengan registrasi ZS-YAE.
Kedua pesawat menggunakan livery khusus bertema Rugby’s Greatest Rivalry. Embraer E195 tampil dengan warna hitam, sementara Embraer E190 menggunakan warna hijau dengan desain serupa.
Selain dilakukan pada ketinggian rendah, kedua pesawat terbang dengan kecepatan sekitar 150 knot atau sekitar 278 kilometer per jam. Manuver seperti ini membutuhkan persiapan dan latihan khusus karena dilakukan dalam formasi pada ketinggian yang sangat rendah.
Meski terlihat spektakuler, aksi tersebut langsung memunculkan perdebatan di media sosial. Sejumlah warganet menilai kedua pesawat terbang terlalu dekat dengan stadion. Ada pula yang mengaku khawatir pesawat dapat mengenai atap bangunan.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Airlink memastikan penerbangan telah dipersiapkan dengan matang dan dilakukan sesuai prosedur keselamatan yang telah ditetapkan.
Dalam pernyataan tertanggal 30 Agustus 2026, Airlink mengatakan aksi flypast membutuhkan perencanaan dan latihan yang cermat. Maskapai tersebut juga menyebut Otoritas Penerbangan Sipil Afrika Selatan (SACAA) serta Air Traffic Navigation Services memberikan arahan, persetujuan, dan dukungan untuk memastikan penerbangan berlangsung aman.
Airlink turut menjelaskan bahwa kedua pesawat diterbangkan oleh kru yang sangat berpengalaman. Masing-masing pesawat melibatkan tiga kapten senior yang bertugas sebagai komandan, kopilot, serta petugas keselamatan dan teknis.
Maskapai tersebut menegaskan data penerbangan yang terekam dari kedua pesawat menunjukkan bahwa manuver dilakukan dalam batas ketinggian dan kecepatan keselamatan yang telah disetujui SACAA serta dilatih sebelumnya.
Tradisi pesawat melakukan flypast rendah di atas stadion juga bukan hal baru dalam dunia rugby Afrika Selatan. Salah satu aksi paling terkenal terjadi pada final Piala Dunia Rugby 1995, ketika Boeing 747 milik South African Airways terbang rendah di atas Stadion Ellis Park di Johannesburg.
(fem/fem/detik)















