Anemia pada Anak Masih Tinggi Termasuk di Jakarta-Bekasi, IDAI Wanti-wanti Pemicunya

Foto: Getty Images/iStockphoto/kan2d

Jakarta, bisnissumsel.com –

Anemia masih banyak ditemukan pada anak dan remaja. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kekurangan zat besi menjadi salah satu penyebab utama kondisi tersebut, terutama pada kelompok usia yang sedang mengalami pertumbuhan pesat.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi IDAI, Murti Andriastuti, mengatakan kebutuhan zat besi paling tinggi terdapat pada bayi dan remaja. Pada kedua kelompok usia tersebut terjadi percepatan pertumbuhan sehingga kebutuhan zat besi meningkat.

“Jadi memang penting sekali kita melihat bahwa betapa defisiensi zat besi berkaitan dengan ekonomi sebuah negara. Karena kebutuhan besi itu memang banyak terdapat pada protein hewani,” kata Murti dalam konferensi pers daring, Selasa (6/10/2026).

Menurut Murti, sumber zat besi bisa diperoleh dari makanan seperti telur, hati, dan daging merah. Pemberian sumber protein hewani dapat dimulai ketika bayi memasuki masa makanan pendamping ASI (MPASI).

“Ketika orang tua sejak awal sudah bisa memberikan protein hewani seperti telur, hati, daging merah kepada bayi-bayi pada saat mereka mulai untuk mendapatkan MPASI, akan memberikan zat besi yang sangat tinggi,” ujarnya.

Murti mengungkap anemia sudah dapat ditemukan sejak bayi berusia 4 bulan. Prevalensinya berada di kisaran 20-30 persen dan meningkat hingga sekitar 40 persen pada usia 9-12 bulan.

Sementara itu, defisiensi besi tanpa anemia disebut mencapai sekitar 30 persen. Pada usia 9 bulan, anemia defisiensi besi berada di kisaran 20-25 persen, sebelum meningkat pada usia berikutnya.

“Jadi penyebab anemia itu yang terbanyak adalah defisiensi besi. Sehingga kalau kita mau menurunkan angka kejadian anemia, yang utama prioritasnya adalah mengatasi defisiensi besi,” jelas Murti.

Ia menyebut defisiensi zat besi dapat berkontribusi sekitar 30-50 persen dari keseluruhan kasus anemia.

Temuan penelitian IDAI di wilayah Jakarta dan Bekasi menunjukkan anemia masih ditemukan pada kelompok usia sekolah hingga remaja.

Pada kelompok anak usia 6-12 tahun, sekitar 14 persen mengalami anemia. Angka tersebut tercatat 13,1 persen pada kelompok usia 6-18 tahun dan sekitar 10 persen pada kelompok usia 10-21 tahun.

Sementara itu, prevalensi defisiensi besi mencapai 14,8 persen pada anak usia 6-12 tahun. Angkanya meningkat menjadi 18,8 persen pada kelompok usia 6-18 tahun dan 20 persen pada kelompok usia 10-21 tahun.

Data tersebut menunjukkan masalah kekurangan zat besi tidak hanya terjadi pada bayi, tetapi juga masih ditemukan ketika anak memasuki usia sekolah dan remaja.

Murti menjelaskan anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal untuk kelompok usia tertentu.

Hemoglobin pada sel darah merah memiliki fungsi membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Ketika kadarnya menurun, kondisi tersebut dapat memengaruhi keadaan klinis anak.

“Jadi kalau misalnya Hb-nya turun tentu akan berdampak juga pada yang mengidap anemia. Jadi akan terlihat kalau misalnya kita dulu ada lelah, lemah, letih,” pungkasnya.

(naf/naf/detik)