Tel Aviv, bisnissumsel.com –
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyebut Prancis telah dilanda “invasi ekstremis Islam” menyusul unjuk rasa besar-besaran yang berujung kerusuhan beberapa hari terakhir.
Pernyataan provokatif Netanyahu itu disampaikan untuk mengkritik Prancis, yang pada akhir pekan kemarin dilanda unjuk rasa besar-besaran secara nasional di berbagai kota, yang dipicu oleh lonjakan harga dan kenaikan biaya hidup.
Unjuk rasa itu berujung kerusuhan yang diwarnai aksi pembakaran dan penjarahan massal, dan tercatat sebagai salah satu aksi kekerasan jalanan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Nyaris 2.400 orang ditangkap, dengan sekitar 1.000 personel kepolisian luka-luka dalam kerusuhan itu.
Komentar Netanyahu itu senada dengan narasi yang kerap dilontarkan oleh para politisi dan komentator sayap kanan di dunia Barat. Kalangan tersebut sering melontarkan klaim-klaim tidak berdasar bahwa sejumlah wilayah di Eropa, seperti Inggris, telah berada di bawah hukum Islam akibat imigrasi. Pandangan semacam itu memicu tuduhan Islamofobia.
Dalam wawancara, menggunakan penerjemah, dengan televisi berita berbahasa Prancis, i24News, seperti dilansir AFP, Rabu (21/10/2026), Netanyahu menyebut para pemimpin Prancis gagal dalam mengantisipasi kerusuhan.
Netanyahu mengklaim bahwa kerusuhan dipicu oleh kelompok ekstremis Muslim, meskipun faktanya masyarakat Prancis yang turun ke jalanan di berbagai kota besar, termasuk ibu kota Paris, dalam aksi protes pada akhir pekan berasal dari berbagai latar belakang yang beragam.
“Mereka (pemimpin Prancis-red) tidak bersiap tepat waktu, mereka justru menyerah begitu saja. Mereka tunduk pada invasi ekstremis Islam,” kata Netanyahu dalam wawancara tersebut, dengan komentarnya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis.
Saat ditanya lebih lanjut soal saran apa yang akan dia berikan kepada Prancis, Netanyahu menjawab: “Lawan balik, jangan menerapkan kebijakan kompromi — lawanlah para ekstremis tersebut.”
(nvc/idh/detik)

















