
Jakarta, bisnissumsel.com –
Berolahraga demi membakar kalori dan memangkas berat badan kerap kali ternoda oleh kebiasaan mengonsumsi minuman manis. Salah satu yang paling sering adalah meminum kopi susu kekinian usai atau di sela-sela rutinitas latihan harian.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, memberikan peringatan tegas terkait kebiasaan ini. Menurutnya, kalori yang berhasil dibakar saat berolahraga bisa hilang begitu saja, bahkan justru berpotensi memicu lonjakan kalori harian (surplus).
“Sayang banget olahraganya, karena misalnya pas olahraga misalnya yang paling gampang kita jalan kaki 30 menit, itu misalnya ngebakar di 150 kkal. Tapi kopi susu kamu tadi itu misalnya 200 kkal, kamu bukannya defisit itu namanya, malah jadi surplus gitu,” ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (22/10/2026).
dr Yaze mengimbau masyarakat untuk mulai memangkas kebiasaan minum kopi susu manis secara bertahap. Menghentikan konsumsi secara mendadak justru berisiko memicu efek samping yang mengganggu kenyamanan tubuh.
“Mulai sekarang kalau kopi susunya hampir setiap hari kamu minum, mulai pelan-pelan untuk ngurangin. Misalnya kayak kadar manisnya dulu dikurangin, jadi 70 persen,” kata dr Yaze.
“Atau misalnya hampir setiap hari satu cangkir nih, kita kurangin, misalnya jadi setengah cangkir dulu gitu, pelan-pelan,” terangnya.
Proses Bertahap Hindari ‘Craving’ Manis
dr Yaze menjelaskan bahwa tubuh yang terbiasa mendapat asupan gula harian dari kopi susu, akan bereaksi jika langsung dihentikan total. Keinginan kuat akan rasa manis (craving) hingga pusing kerap membuat program diet berantakan.
“Karena kalau kamu yang terbiasa minum kopi susu, terus tiba-tiba nggak ada kopi susunya, biasanya kamu langsung kayak nyariin, kayak craving manis. Itu malah jadi bikin kamu jadi susah konsentrasi, lemes, sering sakit kepala,” paparnya.
Oleh karena itu, dr Yaze menyarankan agar pengurangan porsi gula dan frekuensi minum kopi dilakukan secara konsisten sedikit demi sedikit agar tubuh dapat beradaptasi secara alami.
“Jadi memang nggak bisa tiba-tiba langsung di-stop gitu aja, kita harus bertahap. Salah satunya ngurangin kadar manis, sama kayak anak kecil. Belajar jalannya ada prosesnya. Kita belajar misalnya ngurangin manis atau kita belajar defisit kalori, itu juga dikit-dikit dulu saja,” tutupnya.
(sao/naf/detik)
















