Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah Sejak Maret

Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman

Jakarta, Bisnissumsel.com –

Harga minyak dunia kembali anjlok sekitar 5% pada Selasa dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Penurunan ini terjadi setelah kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran dan pembukaan Selat Hormuz.

Kesepakatan itu juga membuka jalan bagi Iran untuk kembali menjual minyak ke pasar global. Minyak mentah Brent turun US$ 4,21 atau 5,1% menjadi US$ 78,96 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 4,70 atau 5,8% menjadi US$ 76,05 per barel.

Penutupan tersebut menjadi yang terendah bagi Brent sejak 2 Maret dan bagi WTI sejak 4 Maret. Sebagai perbandingan, sebelum perang AS-Iran pecah pada 28 Februari, harga Brent ditutup di level US$ 72,48 per barel dan WTI berada di US$ 67,02 per barel.

“Harga minyak mentah turun cepat karena pasar berasumsi Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, dikutip dari Reuters, Rabu (17/6/2026),.

Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Rincian kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang AS-Iran mulai terungkap pada Selasa.

Presiden AS Donald Trump mengatakan perjanjian tersebut akan memastikan Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir. Seorang pejabat AS juga menyebut Iran akan diizinkan kembali menjual minyak setelah kesepakatan ditandatangani.

Kesepakatan itu akan memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April selama 60 hari lagi serta membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini diblokir Iran sejak sejak diserang AS dan Israel.

Meski demikian, sejumlah pihak masih meragukan implementasi kesepakatan tersebut. Para ahli memperingatkan bahwa pemulihan aktivitas pelayaran dan ekspor energi kemungkinan membutuhkan waktu beberapa pekan.

Di Lebanon, kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyatakan Teheran kemungkinan tidak akan menandatangani kesepakatan nuklir final jika Israel belum menarik pasukannya dari Lebanon.

Selain perkembangan di Timur Tengah, harga minyak juga tertekan oleh kekhawatiran terhadap ekonomi China, kenaikan inflasi global, suku bunga yang lebih tinggi, serta dorongan AS untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina.

Trump juga mengatakan Rusia harus berdamai dengan Ukraina setelah pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Pernyataan tersebut memunculkan optimisme hati-hati di kalangan pemimpin G7 bahwa kesepakatan damai masih mungkin tercapai.

Jika perang Ukraina berakhir, sebagian sanksi terhadap Rusia berpotensi dicabut sehingga ekspor minyak negara tersebut dapat meningkat. Berdasarkan data energi AS, Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada 2025 setelah AS dan Arab Saudi.

(ily/ara/detik)