Jakarta, bisnissumsel.com –
Kata tumor sering kali membuat orang membayangkan hal terburuk yang akan terjadi. Unggahan media sosial atau informasi medis yang kurang dipahami sering kali menambah rasa takut seseorang.
Hal ini membuat banyak orang akhirnya lebih percaya pada mitos daripada realitas medis. Pada kenyataannya, tumor otak itu kompleks dan setiap kasus berbeda. Beberapa bersifat kanker, sementara yang lain tidak. Beberapa menunjukkan gejala yang jelas, sementara yang lain tidak terdeteksi selama bertahun-tahun. Agar tidak salah memahami tumor otak, ketahui fakta di balik lima mitos tentang tumor otak berikut ini.
1. Setiap Tumor Adalah Kanker
Banyak orang mendengar istilah tumor otak dan langsung menghubungkannya dengan kanker yang agresif. Padahal, tumor hanyalah istilah yang merujuk pada pertumbuhan sel yang abnormal. Tidak semua pertumbuhannya bersifat ganas.
“Ketika berbicara tentang tumor otak, informasi yang salah tampaknya menimbulkan lebih banyak ketakutan daripada fakta sebenarnya. Mitos besar dan sangat umum adalah anggapan bahwa tumor otak bersifat kanker,” kata Prof Dr Satish Rudrappa, Direktur Grup Aster International Institute of Neurosciences and Spine Care.
Padahal, banyak tumor otak bersifat jinak sehingga tidak menyebar ke bagian tubuh lain. Meski demikian, karena tumor berada di otak, kondisi ini bisa mengganggu fungsi-fungsi penting dan perlu mendapatkan pengobatan.
2. Sakit Kepala Terus-Menerus Merupakan Tanda Pertama Tumor
Tumor memengaruhi otak secara berbeda, tergantung pada lokasi pertumbuhannya. Pada beberapa orang, sakit kepala mungkin menjadi gejala pertama. Namun, pada orang lain, gejala yang berbeda bisa muncul lebih dulu.
“Pada kenyataannya, gejala individu dapat sangat bervariasi dari orang ke orang, dan tidak semua pasien mengalami sakit kepala sejak dini,” kata Prof Rudrappa.
Terkadang, kejang bisa menjadi gejala awal. Gejala lain yang juga dapat terjadi meliputi kesulitan berbicara, kelemahan anggota tubuh, perubahan kepribadian, hingga masalah keseimbangan.
“Bahkan masalah tersebut mungkin mulai terjadi sebelum sakit kepala, dan itulah yang tidak disadari,” tambahnya.
3. Tumor Hanya Menyerang Orang Lanjut Usia
Banyak penyakit memang lebih umum dialami oleh orang lanjut usia. Namun, tumor otak bisa terjadi pada semua kelompok usia.
“Memang, usia bisa menjadi faktor risiko untuk tumor tertentu, tetapi penyakit ini bisa muncul pada anak-anak, dewasa muda, hingga orang paruh baya,” katanya.
4. Ponsel Menyebabkan Tumor Otak
Terdapat anggapan bahwa penggunaan telepon seluler secara teratur secara langsung menyebabkan tumor otak. Padahal, belum ada bukti ilmiah yang membuktikan hubungan sebab-akibat langsung antara penggunaan ponsel dan tumor otak.
“Setelah puluhan tahun penelitian di seluruh dunia, masih belum ada bukti ilmiah yang final bahwa penggunaan telepon seluler secara rutin secara langsung terkait sebagai penyebab perkembangan tumor otak,” kata Prof Rudrappa.
5. Diagnosis Tumor Berarti Hidup Telah Berakhir
Kesalahpahaman ini bisa sangat merusak karena dapat menyebabkan pasien dan keluarga kehilangan harapan.
“Mungkin ini adalah kesalahpahaman yang paling berbahaya. Kemajuan dalam teknologi, seperti pencitraan otak, operasi presisi, terapi radiasi, dan pengobatan presisi, telah secara dramatis mengubah prognosis bagi banyak pasien,” ungkapnya.
“Saat ini, sebagian besar penderita tumor bisa menjalani kehidupan yang memuaskan dan bermakna setelah terapi,” tambahnya.
Pada intinya, jika memiliki gejala neurologis yang tak kunjung hilang, periksakan diri ke dokter. Prof Rudrappa mengingatkan agar tidak membiarkan mitos-mitos membuat seseorang takut untuk memeriksakan diri ke dokter.
(elk/up/detik)















