Harga Solar Subsidi di Malaysia Bakal Turun Bulan Depan

Ilustrasi/Foto: AP/Joshua Paul

Jakarta, bisnissumsel.com –

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan harga solar bersubsidi untuk warga Malaysia akan turun menjadi RM 2,10 atau sekitar Rp 9.061 per liter (kurs Rp 4.315). Kebijakan ini rencananya mulai berlaku pada Juli mendatang.

Harga solar tanpa subsidi di Semenanjung Malaysia sempat menembus RM 6 atau Rp 25.890 per liter pada April lalu. Namun setelah penyesuaian pasar, harganya turun menjadi RM 4,37 atau Rp 18.856 per liter.

Rencana penurunan harga solar dimungkinkan berkat reformasi program subsidi solar tepat sasaran dan akan diterapkan sejalan dengan program Budi RON95 yang menggunakan verifikasi MyKad.

Budi RON95 adalah program subsidi pemerintah Malaysia untuk bensin RON95 bagi masyarakat yang memenuhi syarat. Sedangkan, MyKad adalah kartu identitas resmi warga negara Malaysia yang digunakan untuk berbagai keperluan administrasi dan layanan pemerintah.

Menteri Keuangan II Malaysia Amir Hamzah Azizan dijadwalkan memberikan penjelasan lebih rinci mengenai pelaksanaan kebijakan tersebut pada Senin. Anwar mengatakan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor yang membantu menurunkan harga solar.

“Saya mengumumkan subsidi solar bersasar bukan berupa kenaikan, tetapi penurunan harga, meskipun situasi masih tidak menentu,” kata Anwar yang juga menjabat Menteri Keuangan Malaysia, dikutip dari The Star, Selasa (23/6/2026).

Ia mengaku mendapat informasi dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif yang terlibat dalam proses negosiasi bahwa krisis di kawasan Asia Barat diyakini dapat mereda.

“Hal itu akan membantu kami dari sisi harga solar,” ujarnya.

Anwar juga menjelaskan penerapan subsidi solar bersasar di Semenanjung Malaysia dilakukan lebih lambat dibandingkan Sabah dan Sarawak dengan mempertimbangkan tingginya konsumsi solar di kedua wilayah tersebut.

Menurutnya, selain Brunei, harga bensin RON95 di Malaysia masih menjadi salah satu yang termurah di dunia, bahkan lebih rendah dibandingkan sejumlah negara penghasil minyak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

(ily/ara/detik)