Mimpi RI Bisa Swasembada Bawang Putih

Foto: Alex P/Pexels

Jakarta, bisnissumsel.com –

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan komoditas bawang putih kini telah masuk dalam agenda swasembada pangan nasional Presiden Prabowo Subianto. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi impor bawang putih yang saat ini menguasai 90% dari total pasokan nasional.

Menurutnya rencana swasembada bawang putih ini dapat terealisasi dalam 3-4 tahun mendatang. Meski dalam pelaksanaannya terdapat sejumlah tantangan yang perlu jadi perhatian serius, yakni ketersediaan lahan dan ketersediaan bibit yang sesuai dengan iklim dalam negeri.

“Kita butuh at least 3-4 tahun untuk bisa mencapai swasembada ini. Tantangan paling utamanya adalah ketersediaan lahan, dan juga khususnya lagi adalah ketersediaan bibit,” kata Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu kemarin.

Terkait ketersediaan lahan, Sudaryono menilai tantangan swasembada bawang putih relatif lebih ringan dibandingkan saat pemerintah mengejar swasembada beras kemarin, karena lahan pertanian yang dibutuhkan jauh lebih sedikit hanya sekitar 100.000 hektare. Namun, komoditas ini memerlukan spesifikasi lahan di dataran tinggi.

“Kita sudah ada tiga, di Sembalun di Nusa Tenggara Barat, kemudian di Temanggung, dan juga di Humbang Hasundutan. Nah itu tantangannya, jadi nyari tempatnya yang kurang lebih mirip-mirip seperti itu, tempatnya yang tinggi,” jelas Sudaryono.

Sementara untuk masalah bibit, Sudaryono menilai saat ini Indonesia tidak memiliki ketersediaan bibit bawang putih karena sudah terlalu lama mengandalkan impor. Sementara tidak mungkin ada negara yang bisa menyediakan bibit untuk penanaman hingga 100 ribu hektare seperti target pemerintah saat ini.

Belum lagi, saat Indonesia berhasil mendapatkan bibit bawang putih dari luar negeri, para petani masih harus melakukan penangkaran lebih dahulu agar bibit-bibit tersebut dapat tumbuh dan hidup di iklim Indonesia.

“Kan selama ini negara kita ini impor, yang kita makan itu impor. Maka untuk bisa tanam butuh bibit. Bibit tuh misalnya kita impor dari mana lah, dari negara lain, misalnya mengimpor bibit dari China kan kita tidak mungkin impor bibit untuk 100 ribu hektare, Nggak mungkin tuh,” jelasnya.

“Satu karena memang negara asal tidak akan mengizinkan mengirim bibit sebanyak itu. Pastikan dikirim bibitnya sedikit, nah sedikit itu harus ditangkar. Ditangkar oleh petani kita, di bawah binaannya Ditjen Hortikultura. Kemudian kenapa harus ditangkar, selain jumlahnya nggak cukup, juga harus ditangkar, disesuaikan dengan iklim kita,” sambung Sudaryono.

Tahap Awal Agenda Swasembada Bawang Putih

ia menjelaskan dalam agenda swasembada bawang putih tersebut diawali dengan penyediaan bibit yang cukup untuk penanaman di lahan 100 ribu hektare tadi. Penyedia bibit ini akan dilakukan secara bertahap mengingat pengadaan bibit tidak mudah untuk dilakukan.

Dalam pelaksanaannya, Sudaryono menyebut Kementan melibatkan berbagai pihak mulai dari Asosiasi Petani Bawang hingga BUMN pangan. Di mana ID FOOD dan Bulog akan berperan sebagai off-taker hasil pembibitan, sementara PTPN akan mengalokasikan lahan-lahan di dataran tinggi untuk penanaman.

“Mulai jalan tahun ini, tahun ini kita 5 ribu hektare. Pakai APBN (tanam) 5.000 hektare, BUMN sama swastanya diharapkan 20 ribu hektare karena kita mengarah ke 100 ribu hektare,” tutur Sudaryono.

Saat ditanya terkait anggaran dari APBN tadi, ia mengatakan pemerintah telah menyiapkan dana pembibitan sekitar Rp 75 juta per hektar. Dengan target awal 5 ribu hektare dari APBN tadi, dibutuhkan sekitar Rp 375 miliar (mendekati Rp 400 miliar).

“5 ribu hektare ya, jadi kira-kira Rp 75 juta kali 5 ribu hektare berapa itu? Rp 75 juta kali 5 ribu hektare, sekitar Rp 400 miliaran lah,” tegasnya.

Nantinya setelah bibit awal yang diberikan pemerintah ini berhasil tumbuh, Sudaryono mengatakan bawang putih tidak langsung dipanen untuk konsumsi lebih dulu, namun digunakan untuk menghasilkan bibit baru. Sehingga pada tahap awal ini pengurangan impor tidak akan signifikan.

Baru setelah jumlah bibit bawang putih yang dibutuhkan cukup untuk penanaman di lahan seluas 100 ribu hektare tadi, para petani baru diperbolehkan memanen hasil pertanian untuk konsumsi.

Sehingga dalam tahap awal pelaksanaan agenda swasembada ini, pemerintah akan lebih fokus dalam hal menangani berbagai kendala tadi. Meski tentu Sudaryono berharap seiring pelaksanaan program, kuota impor bawang putih nasional dapat dikurangi secara bertahap yang besarnya akan menyesuaikan dengan peningkatan produksi dalam negeri.

“Sembari berjalan ini nanti kuota impornya InsyaAllah akan terus kita, sambil kita kurangi dengan mendorong produktivitas dalam negeri kita,” tegasnya.

(igo/fdl/detik)