
Sidoarjo, bisnissumsel.com –
Rembesan air di tanggul penahan lumpur Lapindo pada titik 68 yang berada di perbatasan Desa Glagaharum, Kecamatan Porong dan Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, semakin mengkhawatirkan. Warga menyebut debit rembesan yang keluar dari tubuh tanggul terus bertambah dalam beberapa pekan terakhir.
Pantauan detikJatim di lokasi, terlihat aliran air keluar dari area tanggul menuju sungai kecil di bawahnya. Di sekitar lokasi, pihak Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) juga terlihat telah membangun sejumlah saluran pembuangan menyerupai gorong-gorong untuk mengurangi volume air di kolam penampungan lumpur.
Salah satu warga Dusun Pologunting RT 14 RW 4 Desa Gempolsari, Sukadi, mengatakan kondisi rembesan saat ini lebih besar dibanding sebelumnya.
“Kalau dilihat sekarang rembesannya semakin besar. Dulu hanya basah di bagian bawah tanggul, sekarang airnya sudah mengalir cukup deras ke sungai kecil,” kata Sukadi saat ditemui detikJatim di lokasi, Minggu (21/6/2026).
Menurut Sukadi, PPLS telah melakukan upaya dengan membuat beberapa saluran pembuangan air dari area penampungan lumpur. Namun hingga kini rembesan dari tubuh tanggul masih terlihat keluar. Ia mengaku warga tidak bisa menutupi rasa khawatir karena memiliki pengalaman buruk saat tanggul di titik tersebut jebol pada Agustus 2009 lalu.
“Dulu sekitar tahun 2009 tanggul ini pernah jebol. Waktu itu banyak warga dari dua desa yang harus mengungsi. Makanya sekarang kalau melihat rembesan seperti ini warga menjadi was-was,” ujarnya.
Sukadi menambahkan, pasca peristiwa jebolnya tanggul pada 2009, bagian tanggul diperkuat menggunakan bronjong kawat. Meski demikian, kondisi rembesan yang terus terjadi membuat warga tetap merasa cemas.
Kondisi rembesan air di tanggul penahan lumpur lapindo Foto: Suparno Nodhor/ detikjatim)
Kekhawatiran serupa disampaikan Matroji (56), warga Desa Gempolsari. Ia mengatakan rembesan yang terus mengalir dari tanggul menjadi perhatian warga yang tinggal di kawasan bawah tanggul.
“Kami berharap PPLS segera memberikan solusi terbaik. Karena warga yang tinggal di bawah tanggul ini tentu khawatir kalau rembesan terus bertambah,” kata Matroji.
Menurutnya, rembesan yang muncul saat ini sudah berlangsung selama beberapa minggu. Awalnya hanya terlihat tanah di bagian bawah tanggul dalam kondisi basah, namun kini air sudah mengalir keluar secara terus-menerus.
“Awalnya cuma basah, lalu semakin lama menjadi aliran air. Kondisi seperti ini mengingatkan warga pada kejadian tahun 2009 saat tanggul jebol,” tambahnya.
Warga berharap pihak terkait segera melakukan pemeriksaan dan langkah penanganan agar kondisi tanggul tetap aman. Sebab, Desa Gempolsari dan Desa Glagaharum merupakan wilayah yang berada dekat dengan tanggul penahan lumpur sehingga setiap perubahan kondisi tanggul selalu menjadi perhatian masyarakat.
(ihc/dpe/detik)














