Jakarta, bisnissumsel.com –
Penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu ancaman kesehatan paling mematikan di dunia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit jantung dan stroke merenggut sekitar 19,8 juta jiwa pada tahun 2022, atau menyumbang hampir sepertiga dari total kematian global.
Hal yang paling mencemaskan, kasus serangan jantung kini makin banyak mengintai usia muda, dan dikaitkan dengan riwayat stres. Lantas, bagaimana stres bisa menjadi pemicu serangan jantung yang begitu mematikan?
Efek Stres Mendadak pada Jantung
Direktur dan Kepala Unit CTVS Yashoda Medicity, India, Dr Rachit Saxena, menjelaskan bahwa stres akut atau mendadak dapat berdampak langsung pada kondisi jantung, terutama bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung koroner.
Saat seseorang mengalami stres mendadak, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol secara melonjak. Kondisi ini memaksa jantung memompa darah lebih keras dan cepat, yang diikuti dengan lonjakan tekanan darah serta kebutuhan oksigen.
“Bagi seseorang yang sudah memiliki penumpukan plak di pembuluh darah koroner, respons stres ini bisa memicu ketidakstabilan mendadak. Plak tersebut bisa pecah dan membentuk gumpalan darah yang menyumbat aliran darah ke otot jantung, hingga akhirnya memicu serangan jantung,” jelas Dr Rachit, dikutip dari Firstpost.
Dr Rachit menambahkan, itulah alasannya mengapa seseorang bisa mengalami serangan jantung setelah mengalami syok emosional, emosi meledak-ledak, atau rasa takut yang luar biasa.
Meski demikian, ia menegaskan stres saja tidak serta-merta langsung menyebabkan serangan jantung jika tidak dibarengi faktor risiko lain, seperti usia, hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, merokok, atau riwayat keluarga.
Bahaya Stres Kronis Jangka Panjang
Berbeda dengan stres mendadak, stres kronis yang berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun memberikan dampak merusak yang bertahap pada sistem kardiovaskular.
Direktur dan Kepala Kardiologi ShardaCare Healthcity, Dr Vivek Tandon, memaparkan bahwa stres jangka panjang dapat merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah, memicu tekanan darah tinggi, hingga menimbulkan peradangan kronis di pembuluh darah.
“Stres kronis juga memengaruhi sistem listrik jantung. Kondisi ini bisa membuat irama jantung berdebar tidak teratur (aritmia), yang sering kali diperparah oleh pola hidup buruk seperti kurang tidur dan konsumsi kafein berlebih,” tutur Dr Vivek.
Dr Vivek mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap sepele masalah kesehatan mental dan beban pikiran.
“Stres kronis bukan cuma masalah emosional. Ini memengaruhi banyak proses dalam tubuh yang berdampak langsung pada jantung. Stres jangka panjang yang tidak dikelola dengan baik menciptakan kondisi yang membuat penyakit jantung muncul lebih cepat dan lebih parah,” pungkasnya.
(sao/naf/detik)

















