Surakarta, bisnissumsel.com –
Perubahan iklim menjadi tantangan yang semakin nyata bagi sektor pertanian. Ketidakpastian musim, banjir, kekeringan, hingga perubahan pola hidrologi membuat produktivitas lahan menurun dan berdampak pada kesejahteraan petani. Berangkat dari tantangan tersebut, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Plaju menghadirkan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Mina Padi (Pengembangan Pertanian Mandiri Tanggap dan Adaptif Perubahan Iklim) sebagai upaya membangun ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan petani dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim. Atas dampak nyata yang dihasilkan, program tersebut meraih Penghargaan Platinum pada kategori Economic Empowerment dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 pada Kamis (06/08).
Program Mina Padi telah dijalankan sejak tahun 2022 di Desa Sungai Rebo, Kabupaten Banyuasin, dengan melibatkan kelompok tani dan masyarakat yang mengelola lahan rawa lebak pasang surut. Program ini dirancang untuk meningkatkan resiliensi petani melalui diversifikasi usaha pertanian, penerapan praktik pertanian ramah lingkungan, serta penguatan kapasitas masyarakat agar mampu beradaptasi dengan perubahan musim dan kondisi hidrologi yang terus berubah.
Melalui pendekatan Tani Mandiri, Kilang Plaju mendorong masyarakat agar tidak lagi bergantung pada satu sumber penghasilan dari panen padi. Program ini menghadirkan diversifikasi usaha melalui budidaya ikan, peternakan bebek, hilirisasi hasil pertanian, hingga pertanian polikultur. Hasilnya, biaya penggilingan gabah berhasil ditekan dari Rp722.000 menjadi Rp120.000 per ton gabah, sekaligus membuka berbagai sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Usaha telur asin memberikan tambahan pendapatan sekitar Rp2,4 juta per bulan, UMKM olahan pertanian dan peternakan menambah pendapatan rumah tangga petani sekitar Rp1,35 juta per bulan, sementara budidaya ikan mampu menghasilkan tambahan pendapatan kelompok tani hingga Rp5,6 juta setiap musim panen.
Tidak berhenti pada aspek ekonomi, melalui konsep Tani Tanggap, Kilang Plaju membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia yang selama ini menjadi salah satu penyumbang tingginya biaya produksi. Melalui pengembangan pupuk dan pestisida organik, kebutuhan pupuk kimia berhasil ditekan hingga 20 persen, dari 500 kilogram menjadi 400 kilogram per hektare. Di sisi lain, sebanyak 1,3 ton limbah palet kayu perusahaan dimanfaatkan menjadi kandang unggas, sehingga tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon sebesar 0,087607 ton CO₂eq sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Sementara itu, melalui pendekatan Tani Adaptif, Kilang Plaju membantu masyarakat menghadapi tantangan banjir, kekeringan, dan perubahan pola hidrologi yang selama ini membatasi produktivitas lahan rawa lebak. Pembangunan katup pengatur air serta penyediaan satu titik fasilitas air bersih komunal yang kini dimanfaatkan oleh 25 kepala keluarga mendukung pengelolaan sumber daya air yang lebih baik. Intervensi tersebut turut meningkatkan intensitas tanam dari IP100 menjadi IP200, sehingga produksi gabah meningkat signifikan dari sekitar 4 ton menjadi 7 ton per tahun, sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Berbagai dampak tersebut mengantarkan Program Mina Padi meraih Penghargaan Platinum pada kategori Economic Empowerment dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 yang mengusung tema “Catalyzing Collective Change for Scalable Impact.” Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap program pemberdayaan yang mampu menghadirkan perubahan nyata, berkelanjutan, dan dapat diperluas manfaatnya bagi masyarakat.
Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Plaju, Siti Fauzia mengatakan bahwa penghargaan ini merupakan apresiasi atas komitmen perusahaan dalam menghadirkan program pemberdayaan yang lahir dari kebutuhan masyarakat dan dikembangkan bersama masyarakat.
“Bagi kami, keberhasilan program TJSL tidak diukur dari penghargaan yang diterima, melainkan dari perubahan yang dapat dirasakan masyarakat. Program Mina Padi menjadi bukti bahwa kolaborasi, inovasi, dan pendampingan yang berkelanjutan mampu membantu masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi mereka. Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus menghadirkan program-program yang memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan,” ujar Siti.
Siti menambahkan bahwa bagi Kilang Plaju, keberhasilan operasional juga harus diiringi dengan hadirnya manfaat bagi masyarakat sekitar. Karena itu, perusahaan terus menghadirkan program-program pemberdayaan yang menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendorong mereka agar semakin mandiri dan mampu berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Sejalan dengan komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), Kilang Plaju berusaha untuk terus menghadirkan program TJSL yang tidak hanya menjawab tantangan hari ini, tetapi juga membangun ketangguhan masyarakat menghadapi perubahan di masa depan. Melalui kolaborasi bersama masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan, Kilang Plaju berkomitmen menghadirkan program-program yang mampu menciptakan manfaat berkelanjutan, sekaligus mendukung terwujudnya pembangunan yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.(Ferdi/bs)
















