Aspartam hingga Sukralosa, Ini 3 Jenis Pemanis Buatan dan Risiko Efek Sampingnya

Foto: Ilustrasi pemanis buatan (Getty Images/PatriciaEnciso)

Jakarta, bisnissumsel.com –

Pemanis buatan kerap menjadi pilihan bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi gula, terutama karena rasanya yang manis dengan kandungan kalori lebih rendah. Beberapa jenis pemanis bahkan memiliki tingkat kemanisan ratusan kali lipat dibandingkan gula biasa sehingga hanya perlu digunakan dalam jumlah sedikit.

Meski demikian, konsumsi pemanis buatan tetap perlu diperhatikan. Setiap jenis pemanis memiliki karakteristik, batas asupan harian, serta potensi efek samping yang berbeda. Lantas, apa saja jenis pemanis buatan yang umum digunakan dan bagaimana risiko konsumsinya bagi kesehatan?

1. Aspartam

Aspartam merupakan pemanis rendah kalori dengan rasa 200 kali lebih manis daripada gula, sehingga jumlah yang perlu digunakan cukup sedikit. Dikutip dari laman WebMD, produk yang umumnya menggunakan aspartam di antaranya soda diet, jus dan teh, yoghurt rendah lemak, hingga permen karet.

JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) menegaskan bahwa asupan harian aspartam yang dapat diterima tubuh atau Acceptable Daily Intake (ADI) adalah sebesar 40 mg/kg berat badan.

Meski dianggap aman dikonsumsi dalam jumlah kecil, aspartam memiliki beberapa risiko dan efek samping yang perlu dipertimbangkan. Para ilmuwan percaya bahwa gula dan pemanis nonkalori seperti aspartam bisa menyebabkan kecanduan. Selain itu, konsumsi aspartam dalam jumlah besar melalui makanan atau minuman bisa menyebabkan dermatitis kontak, yaitu reaksi alergi yang mengakibatkan ruam gatal.

Sementara itu, penggunaan aspartam sebagai penunjang penurunan berat badan masih sangat diperdebatkan. Selama beberapa dekade, penelitian menunjukkan hasil yang beragam. Beberapa studi menemukan bahwa beralih dari gula ke aspartam berhasil menurunkan berat badan pada sebagian orang, tetapi sebagian lainnya tidak mengalami penurunan berat badan sama sekali.

2. Sakarin

Sakarin memiliki tingkat kemanisan 300-400 kali lebih tinggi daripada gula biasa. Namun, sakarin bisa meninggalkan rasa pahit. Hal inilah yang membuat sakarin sering dicampur dengan pemanis rendah kalori atau tanpa kalori lainnya.

Terkadang, sakarin dikombinasikan dengan aspartam. Pemanis ini digunakan dalam minuman berkarbonasi, selai, jeli, kue, hingga obat-obatan. Sakarin juga bisa digunakan seperti gula pasir untuk ditaburkan pada makanan, seperti sereal atau buah.

Dikutip dari laman Healthline, FDA menetapkan batas asupan harian sakarin sebesar 5 mg per kg berat badan. Artinya, seseorang dengan berat badan 70 kg bisa mengonsumsi 350 mg sakarin per hari.

Salah satu kelemahan penggunaan sakarin adalah beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sakarin dalam jumlah besar bisa berdampak negatif pada keseimbangan bakteri di usus. Perubahan mikroba di usus bisa menyebabkan diabetes tipe 2, obesitas, dan, dalam kasus yang jarang terjadi, kanker.

3. Sukralosa

Sukralosa tahan panas, artinya tetap manis meski digunakan pada suhu tinggi selama proses pemanggangan. Karena itu, pemanis ini cocok sebagai pengganti gula dalam makanan panggang dan tidak meninggalkan rasa pahit. Sukralosa juga digunakan dalam makanan seperti yoghurt, es krim, dan minuman soda.

Dikutip dari laman European Food Safety Authority, asupan harian sukralosa yang dapat diterima adalah 15 mg/kg berat badan. Namun, asupan konsumen saat ini tetap berada di bawah tingkat tersebut.

Pemanis ini diubah secara kimia sehingga 600 kali lebih manis daripada gula asli dengan hampir tanpa kalori.

Selama bertahun-tahun, sukralosa dipasarkan sebagai alternatif yang lebih sehat daripada gula dan aman dikonsumsi dalam jumlah kecil. Namun, para ahli masih khawatir tentang bagaimana pengaruhnya jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan dalam jangka waktu lama.

Bahkan, sukralosa justru dikaitkan dengan penambahan berat badan karena bisa meningkatkan rasa lapar dan membuat seseorang ingin mengonsumsi lebih banyak makanan atau minuman manis seiring waktu.

Jika digunakan dalam jangka panjang, sukralosa juga bisa meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

(elk/kna/detik)