Jalur Udara Terancam, Traveler Iran-Irak Mulai Lirik Perjalanan Darat

Jakarta, bisnissumsel.com –

Pembatasan penerbangan Iran mulai menimbulkan keresahan di kalangan traveler dan agen perjalanan di Irak. Jika sebelumnya perjalanan antara kedua negara bisa relatif singkat dengan pesawat, kini banyak orang bersiap menghadapi perjalanan darat yang jauh lebih lama.

Kekhawatiran itu muncul setelah Amerika Serikat (AS) memperketat sanksi terhadap penerbangan Iran. Sejumlah negara dan bandara mulai membatasi penerbangan dari Iran, memicu ketidakpastian bagi wisatawan, peziarah, hingga pelaku industri perjalanan.

Bagi banyak traveler, Irak dan Iran merupakan rute yang sangat sibuk. Ribuan peziarah setiap tahun bepergian ke kota-kota suci di kedua negara. Sebagian warga Irak juga rutin berkunjung ke Iran untuk berobat, berwisata, atau urusan keluarga.

Meski jalur darat tetap tersedia, waktu tempuhnya jauh lebih lama dibandingkan pesawat. Perjalanan ke Kota Qom, salah satu tujuan favorit peziarah di Iran, misalnya, bisa berubah menjadi perjalanan darat lebih dari 12 jam setelah melintasi perbatasan. Beberapa kota lain bahkan membutuhkan waktu perjalanan yang lebih panjang.

Situasi itu membuat agen perjalanan mulai bersiap mencari alternatif. Di Najaf, agen perjalanan Haidar Shamaa mengatakan sebagian besar biro perjalanan di kota tersebut bergantung pada penerbangan menuju berbagai kota di Iran.

“Sebagian besar perusahaan perjalanan di kota ini bergantung pada pemesanan penerbangan ke bandara-bandara Iran,” kata Haidar dikutip Al Jazeera, Jumat (25//9/2026).

Menurut Haidar, pengalihan ke jalur darat akan menjadi tantangan besar, terutama bagi wisatawan lanjut usia dan pasien yang bepergian ke Iran untuk mendapatkan perawatan medis.

Ketidakpastian juga mulai dirasakan calon penumpang. Banyak pelanggan menghubungi agen perjalanan untuk menanyakan nasib tiket dan jadwal keberangkatan mereka. Namun hingga kini, banyak agen mengaku belum bisa memberikan kepastian karena kebijakan di lapangan masih terus berubah.

Mustafa Majid, pemilik biro perjalanan lain di Najaf, memperkirakan kondisi itu berpotensi memukul bisnis perjalanan. Selama ini perusahaannya hanya mengandalkan penjualan tiket pesawat dan tidak memiliki layanan transportasi darat.

“Pekerjaan kami bisa berhenti total,” kata dia.

Di kota Diwaniyah, agen perjalanan Amir Fouadi mengaku sudah mulai membatalkan sebagian perjalanan dan mengganti beberapa lainnya dengan jalur darat.

“Setiap perubahan membuat kami harus bekerja ekstra mencari solusi alternatif,” kata dia.

Menurut Amir, situasi menjadi lebih rumit karena banyak perjalanan dijual dalam bentuk paket lengkap yang mencakup tiket pesawat, hotel, hingga agenda wisata. Ketika penerbangan dibatalkan, seluruh rangkaian perjalanan harus disusun ulang.

Sementara itu, sejumlah agen perjalanan di Baghdad mengatakan memilih menghentikan sementara penjualan tiket ke Iran sambil menunggu kepastian mengenai penerapan pembatasan penerbangan.

(fem/ddn/detik)