Ribuan Warga RI yang Dulu ‘Sehat’ Kini Ketahuan Idap Diabetes-Hipertensi

Foto: Getty Images/iStockphoto/bymuratdeniz

Jakarta, bisnissumsel.com –

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) setiap tahun. Pasalnya, hasil evaluasi menunjukkan jutaan warga pada pemeriksaan tahun sebelumnya dinyatakan bebas penyakit, setahun kemudian terdeteksi mengalami hipertensi hingga diabetes.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes dr Maria Endang Sumiwi, MPH mengatakan perubahan kondisi kesehatan dapat terjadi dalam waktu singkat. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin dinilai penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini.

“Pesannya adalah selalu cek kesehatan gratis setiap tahun. Karena bisa jadi tahun lalu kita tidak bermasalah, tahun ini kita bermasalah,” kata Endang dalam paparan capaian CKG, Selasa (4/8/2026).

Berdasarkan analisis data peserta yang telah mengikuti CKG selama dua tahun berturut-turut, Kemenkes menemukan perubahan kondisi kesehatan yang cukup signifikan.

Dari sekitar 30 juta orang pada CKG 2025 dinyatakan tidak mengalami hipertensi, sebanyak 9,2 juta orang kembali menjalani pemeriksaan pada 2026. Hasilnya, 1 juta orang di antaranya kini terdiagnosis hipertensi.

“Jadi tahun lalu 30 juta diperiksa tidak bermasalah. Dari yang sudah kembali diperiksa tahun ini, ternyata satu juta menjadi hipertensi. Ini menunjukkan kenapa cek kesehatan harus dilakukan setiap tahun,” ujar Endang.

Temuan serupa juga terjadi pada peserta dengan kondisi prehipertensi. Dari 3,9 juta orang yang sebelumnya berada di ambang hipertensi, sebanyak 1,3 juta orang kembali mengikuti CKG. Hasil evaluasi menunjukkan 297 ribu orang di antaranya telah berkembang menjadi hipertensi.

Menurut Endang, kondisi tersebut menjadi alasan penting agar masyarakat tidak menunda pemeriksaan kesehatan, meski hasil pemeriksaan sebelumnya normal.

Ratusan Ribu Warga Baru Ketahuan Diabetes

Perubahan status kesehatan juga ditemukan pada pemeriksaan gula darah.

Kemenkes mencatat, dari 8,3 juta peserta yang sebelumnya tidak mengidap diabetes dan kembali mengikuti CKG tahun ini, sebanyak 188 ribu orang kini terdiagnosis diabetes.

Sementara itu, dari kelompok prediabetes, terdapat 16 ribu orang yang berkembang menjadi diabetes setelah menjalani pemeriksaan ulang.

“Karena itu masyarakat yang sudah diperiksa tahun lalu diharapkan segera kembali lagi mengikuti CKG tahun ini,” kata Endang.

Di sisi lain, evaluasi juga menunjukkan hasil yang positif. Dari 340 ribu penyandang diabetes yang kembali mengikuti CKG, sebanyak 235 ribu orang telah berhasil mengendalikan kadar gula darah hingga kembali normal.

Hal serupa terlihat pada pengidap hipertensi. Dari 6,8 juta peserta dengan hipertensi yang tercatat pada pemeriksaan sebelumnya, sebanyak 2,4 juta orang kembali menjalani CKG. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,1 juta orang berhasil mengendalikan tekanan darah hingga kembali normal.

“Itu tujuan kita. Yang tahun lalu hipertensi, tahun ini jangan masih hipertensi. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang tekanan darahnya kembali normal,” ujar Endang.

Kemenkes Evaluasi Pemberian Obat

Selain pemeriksaan, Kemenkes juga mengevaluasi tindak lanjut pengobatan bagi peserta CKG yang terdiagnosis penyakit.

Endang mengatakan pemerintah sebenarnya telah menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama bagi peserta yang ditemukan mengalami hipertensi, diabetes, maupun gangguan lemak darah. Setelah itu, pengobatan dilanjutkan melalui layanan BPJS Kesehatan.

Namun, uji di tiga puskesmas menunjukkan baru 43-62 persen pasien yang langsung memperoleh pengobatan.

“Hasil evaluasi kami masih bervariasi. Ada yang diperiksa saat kegiatan di komunitas, tetapi ketika diminta datang ke puskesmas untuk mengambil obat ternyata tidak datang,” jelasnya.

Karena itu, Kemenkes tengah mengevaluasi mekanisme pelayanan, termasuk kemungkinan membawa obat langsung saat kegiatan pemeriksaan di masyarakat agar peserta bisa segera memulai pengobatan tanpa harus datang kembali ke puskesmas.

Endang menegaskan tujuan utama CKG bukan sekadar menemukan penyakit, tetapi memastikan masyarakat mendapatkan pengobatan lebih cepat sehingga risiko komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, maupun kematian dini dapat dicegah.

(naf/naf/detik)