Jakarta, bisnissumsel.com –
Menteri Agama RI (Menag) sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengungkapkan rencana penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) di Indonesia.
Konferensi ini akan mempertemukan para imam besar dari berbagai negara untuk membahas diplomasi agama, kerukunan lintas agama, dan perdamaian dunia.
Nasaruddin mengatakan konferensi tersebut akan mengangkat tema ‘Masjid Harmoni, Religious Diplomacy and Global Peace’. Melalui forum ini, Indonesia ingin memperkenalkan pendekatan diplomasi agama sebagai salah satu upaya meredam konflik internasional.
“Jadi kita akan menciptakan satu keharmonian lintas agama, lintas etnik melalui masjid,” ujar Nasaruddin, dalam program detikPagi, Kamis (24/9/2026).
Menurut Nasaruddin, Indonesia memiliki pengalaman dalam mengelola keberagaman yang dapat menjadi modal untuk berkontribusi terhadap perdamaian dunia. Keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama di Indonesia dinilai dapat menjadi contoh bagi masyarakat internasional.
“Agama kita yang ada di sini di Indonesia ini ada Kristen, ada Katolik, ada Hindu, Buddha, dan Konghucu. Itu juga adalah sangat solid satu sama lain di antara kita, kan,” jelas Nasaruddin.
“Dengan demikian, ini kontribusi yang paling besar untuk terciptanya Indonesia yang utuh adalah umat beragama yang sangat kompak,” sambungnya.
Nasaruddin menyebut pengalaman sejarah, kehidupan antarumat beragama, serta Pancasila sebagai faktor yang berperan dalam menjaga persatuan Indonesia.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan di tengah potensi provokasi yang menggunakan isu agama. Karena itu, Kemenag terus mengembangkan literasi keagamaan, kurikulum cinta, dan eko-teologi untuk memperkuat persatuan masyarakat.
“Itu semuanya (literasi keagamaan, kurikulum cinta, dan eko-teologi) bermuara kepada bagaimana menciptakan kebersamaan, kesatuan secara substansial. Jadi bukan hanya sekadar permukaan-permukaannya utuh,” jelas Nasaruddin.
“Tapi di bawahnya itu kayak ada ‘magma’ menyimpan barang yang sangat berbahaya,” sambungnya.
Nasaruddin menjelaskan konferensi tersebut direncanakan menghadirkan para imam besar dari Timur Tengah, Asia Tenggara, Jepang, Eropa, Skandinavia, Amerika Serikat, hingga Amerika Latin.
Rangkaian kegiatan akan berlangsung di Jakarta, dengan sebagian acara diselenggarakan di Masjid Istiqlal. Selain itu, terdapat rencana penyelenggaraan kegiatan di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).
Sejumlah tokoh agama internasional juga telah masuk dalam daftar undangan, termasuk Grand Imam Al-Azhar dan Syekh Abdurrahman Al-Sudais.
“Kita sudah melayangkan suratnya. Tapi karena itu adalah setingkat Perdana Menteri, maka itu yang kami diminta untuk datang membawa surat itu,” kata Nasaruddin.
Meski demikian, kehadiran para tokoh tersebut belum dipastikan. Nasaruddin berharap undangan yang telah disampaikan mendapat respons positif.
Ia mengatakan konferensi imam besar sebelumnya pernah diselenggarakan dengan cakupan negara-negara Timur Tengah. Melalui penyelenggaraan kali ini, Indonesia berencana memperluas partisipasi ke berbagai kawasan dunia.
Ajak Masyarakat Jadi Tuan Rumah yang Baik
Nasaruddin turut mengajak masyarakat Indonesia mendukung penyelenggaraan IGIC dengan menjadi tuan rumah yang baik bagi para tokoh agama internasional.
Konferensi tersebut juga direncanakan menghadirkan kegiatan seni dan budaya keagamaan dari berbagai negara. Sejumlah delegasi berpotensi membawa kelompok kesenian, qari, hingga penyanyi religi untuk tampil di Masjid Istiqlal.
Masyarakat nantinya berkesempatan mengikuti sejumlah kegiatan yang terbuka untuk umum, termasuk salat berjemaah yang dipimpin imam besar dari berbagai negara.
“Bahwa pertama, mohon nanti pada saatnya masyarakat bisa datang ke Istiqlal. Bagaimana diimami oleh imam-imam yang tersohor di negerinya masing-masing, ya kan?,” kata Nasaruddin.
“Dan yang kedua juga, mari kita menjadi tuan rumah yang baik. Dan yang ketiga, mari kita viralkan statement-statement ulama,” pungkasnya.
(hnu/ega/detik)














