Ledakan Terdengar di Kota-kota Iran Usai AS Menyerang, Sejumlah Warga Terluka

Foto: Ilustrasi (Getty Images/wirot pathi)

Jakarta, bisnissumsel.com –

Militer Amerika Serikat (AS) kembali menyerang Iran di wilayah Selat Hormuz. Ledakan terdengar di sejumlah kota Iran hingga menyebabkan beberapa warga terluka.

Dilansir CNN International, Rabu (8/7/2026), media pemerintah Iran melaporkan adanya bunyi ledakan di wilayah selatan Iran. Beberapa ledakan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas dan Sirik, serta di Pulau Qeshm.

Sejumlah proyektil dilaporkan menghantam dermaga komersial di Sirik, dermaga nelayan di Desa Ziarat, dan kapal-kapal nelayan sipil di Bandar Abbas. Lembaga penyiaran pemerintah Iran, IRIB, menyatakan bahwa sebuah menara telekomunikasi di Bandar Abbas juga menjadi sasaran serangan.

Menurut IRIB, beberapa orang terluka akibat serpihan material dari serangan di dermaga Sirik.

Militer AS baru saja mengumumkan serangan terbaru di wilayah Iran pada Selasa (7/7) waktu setempat. Serangan itu terjadi usai Iran mengirimkan rudal ke sejumlah kapal komersial yang melintas di selat tersebut.

“Serangan AS ini merupakan tanggapan atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz dan bertujuan untuk memberikan konsekuensi berat atas tindakan menargetkan dan menyerang pelayaran komersial,” bunyi pernyataan Komando Pusat AS dilansir AFP.

“Agresi yang ditunjukkan Iran tersebut tidak dapat dibenarkan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata,” tambahnya.

Pihak Iran juga telah buka suara terkait serangan terbaru dari AS. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tindakan itu merupakan bukti pelanggaran nota kesepahaman yang telah berulang kali dilakukan AS. Iran menegaskan akan mengambil langkah tegas dalam menyikapi serangan tersebut.

“Iran menyampaikan peringatan keras mengenai konsekuensi dari pelanggaran perjanjian yang dilakukan Amerika, dan akan mengambil langkah tegas untuk melindungi kepentingan serta keamanan nasionalnya,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang diunggah ke Telegram oleh IRIB News.

(ygs/whn/detik)