Jakarta, bisnissumsel.com –
Gaya hidup dan pola makan masa kini mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Makanan kekinian yang cenderung manis dan serba lunak kini mendominasi pola makan sehari-hari.
Tanpa disadari, lifestyle kuliner seperti ini membawa dampak buruk bagi kesehatan gigi dan mulut. Makanan lunak dan manis sangat mudah menempel pada sela-sela gigi, membentuk plak, dan diubah menjadi asam oleh bakteri perusak.
Padahal, ada “senjata rahasia” sederhana yang kerap terlupakan untuk menjaga kebersihan rongga mulut: mengonsumsi buah dan sayur berserat.
Makanan kaya serat tidak hanya berguna bagi pencernaan tubuh, melainkan bekerja sebagai pembersih mulut alami melalui proses mekanis di dalam rongga mulut.
Mekanisme Self-Cleansing
Secara medis, proses mengunyah makanan yang berserat tinggi memicu reaksi biologis dan mekanis yang menguntungkan gigi.
Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof drg Suryono, S.H., M.M, PhD menjelaskan, proses pengunyahan atau mastikasi ini bekerja membersihkan sisa makanan.
“Pengunyahan itu bahasa kedokterannya mastikasi, ya, karena proses pengunyahan ini sebenarnya ada proses pembersihan secara alami,” ungkap Prof Suryono dalam Konferensi Pers Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) di Jakarta, Jumat (17/9/2026).
Berbeda dengan makanan olahan yang bertekstur lunak, buah, dan sayur berserat tidak gampang melekat di permukaan jaringan keras gigi.
Ia menambahkan, terdapat bahaya laten dari makanan lunak yang sering dikonsumsi masyarakat saat ini.
“Nah, berbeda dengan makanan yang lunak tadi, mudah menempel dan lain sebagainya, itulah yang cenderung memudahkan plak atau kuman itu nanti dikumpul di situ. Sehingga ya kalau plaknya meningkat, nanti yang terjadi adalah biasanya gigi berlubang karena asam,” jelasnya.
“Asam itu dihasilkan karena tadi sisa makanan dimakan oleh bakteri, kemudian menghasilkan asam. Nah, asamnya inilah yang menyebabkan jaringan keras gigi itu jadi rusak, kropos, terus lubang dalam bahasa kita,” lanjutnya.
Oleh karena itu, ia mengimbau, agar membiasakan diri mengonsumsi makanan berserat untuk memicu efek pembersihan alami tersebut.
“Sehingga kami sarankan silakan makan makanan yang berserat, agar ada proses pengunyahan. Sehingga, proses yang namanya self-cleansing, pembersihan secara alami itu bisa jalan,” imbaunya.
Serat Vs Gula
Selain membantu pembersihan secara fisik, serat pada buah dan sayur juga memiliki efek biologis penting.
Serat dan asupan air membantu menekan pertumbuhan bakteri perusak dan merangsang produksi air liur yang kaya akan bakteri penyeimbang (Streptococcus salivarius).
Ketua Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI), Dr Andi Tajrin, drg, M.Kes, Sp.B.M.Mf., Subsp.C.O.Mf (K). mengatakan, serat dan gula berada di posisi yang bertentangan di dalam mulut.
“Jadi, serat dan gula itu bertentangan. Gula itu meningkatkan bakteri yang menyebabkan kerusakan dalam rongga mulut. Serat dan makanan air yang memperlancar air liur dan seterusnya, itu juga merangsang bakteri yang menguntungkan untuk rongga mulut,” ucap drg Tajrin.
Manfaat positif dari konsumsi air putih, sayuran, dan buah-buahan berserat tinggi inilah yang menekan perkembangbiakan bakteri perusak.
“Serat sayur dan air putih itu sangat bermanfaat. Karena dia merangsang pertumbuhan bakteri yang normal, yang akan mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak normal. Tadi streptococcus mutans, dia dihambat oleh streptococcus salivarius,” lanjutnya.
Mengubah gaya hidup dengan mengonsumsi porsi sayur, buah, serta air adalah investasi jangka panjang yang sangat murah.
Melalui kebiasaan sederhana mengunyah makanan berserat, mekanisme self-cleansing alami akan bekerja otomatis menjaga kesehatan gigi dari ancaman gigi berlubang.
(aur/up/detik)

















